Translate

Senin, 31 Desember 2018

Di Penghujung 2018

Malam ini tanggal 31 Desember 2018. Tak ada perayaan spesial, ya seperti biasa. Ibu dan adik bungsuku sedang sakit. Terdengar suara dzikir dari masjid kampung sebelah bersahutan dengan suara kembang api di tempat lain. Kami hanya di rumah saja. Akhir tahun aku tutup dengan puasa sunnah senin-kamis.

Semakin malam, suara dentuman kembang api makin terdengar keras di udara. Aku sesungguhnya tak suka suara itu. Mengganggu jadwal tidurku saja. Lalu mulai tak bisa tidur, meski sudah sedari tadi niat tidur cepat.

Sesekali scroll layar handphone, kulihat masih banyak status yang sibuk dengan semua yang berbau bakar-bakaran. Khas malam pergantian tahun baru masehi. Lalu aku bosan, dan mengingat apa yang telah dicapai selama 2018.

Januari 2018, dimulai dengan perjalanan yang amat sibuk dan menghabiskan dana yang lumayan. Aku tes TOEFL, persiapan untuk ikut beasiswa S2. Bayar mahal, dan tak belajar. Alhamdulillah nilai TOEFL ku memenuhi syarat 410, meski tak amat besar. Membuat SKCK, membuat surat keterangan dari BNN, surat keterangan dokter, dll. Semuanya ditemani adik laki-lakiku, kebetulan dia juga tahun ini lulus SMA. Tentu keperluan surat seperti itu akan dibutuhkan nantinya.

Februari, Maret, April, dan Mei, aku terlalu asyik dengan dunia kerja. Hingga lupa ada yang harus aku selesaikan untuk menunjang keberhasilan beasiswaku nantinya. Ya, esai. Tiga jenks esai yang tak terselesaikan, aku lalai. Kebiasaanku menunda sesuatu harus aku hilangkan.

Tiba saat deadline. Hari terakhir pengiriman berkas, 08 Juni 2018. Aku masih sibuk mengedit esai ku. Hingga saat upload file, aku telat sepersekian detik. Aku sudah pesimis, beberapa syarat ternyata aku juga belum punya. Aku marah pada diriku sendiri. Padahal kali ini kesempatan terakhirku untuk bisa ikut beasiswa itu.

Juli. Libur tahun ajaran baru. Entah apa yang aku lakukan selama libur. Aku lupa. Sampai pada pertengahan Bulan Juli, sekolah sudah dimulai kembali. Aku yang awalnya mengajar di 2 sekolah dan 1 tempat bimbel, tahun ajaran baruvkali ini diberi amanah yang luar biasa. Di sekolah A, aku mengampu 3 tingkatan kelas sekaligus. Kelas X, XI, XII dan tiap minggu harus menyediakan soal-soal yang berbeda. Dan juga sekaligus pembimbing olimpiade yang tiap minghu juga harus menyediakan soal-soal olimpiade yang -taulah ya susahnya-. Di sekolah B, aku dipercayakan menjadi wali kelas, pembina 7K pula. Di bimbel, seperti biasa masih bisa mengikuti jadwalku yang padat di sekolah.

Lalu, aku juga mengajar di sekolah C. Disana memang membutuhkan guru bidang studi yang aku ampu. Tempat baru, aku sayang dengan siswanya. Mereka lebih sopan dan lebih peduli dengan guru. Meskipun lingkungan sekolahnya aku belum begitu bisa beradaptasi, belum sehati. Ingin rasanya aku lepas saja, tapi aku terlanjur sayang dengan siswanya.

Agustus, menjadi bulan tersibuk. Karena banyaknya acara di bulan ini, aku hampir putus asa memikirkannya. Menjadi guru pendamping baris-berbaris. Hampir 2 minggu mempersiapkan semua kebutuhan dan mental siswa. Mereka pleton 1 putra yang rata-rata remaja dengan prinsipnya sendiri. Senang kabur saat latihan, padahal maunya menang. Kurang disiplin dan semena-mena. Alhamdulillah masih dapat juara harapan 3. Tiga hari berturut-turut jalan dari Alun-alun utara hingga Alun-alun selatan. Menjadi pendamping baris, baris para guru dan pendamping karnaval. Masa bodoh lah dengan muka yang semakin menghitam yang memeang dasarmya tak putih.

September, mulai sakit-sakitan. Batuk tak kunjung sembuh hingga sebulan lebih. Ibuku yang perhatian selalu memasakkan air hangat untukku mandi. Karena setiap pagi aku harus ke sekolah, bahkan lebih pagi dari guru biasanya karena pembina 7K.

Oktober, harusnya jadi bulan yang amat membahagiakan untukku. Nyatanya, aku terserang sakit maag. Mulailah aku tak bisa makan makanan kesukaanku, asam pedas. Baru tau rasanya sakit yang teramat sakit. Bulan ini juga, sibuk mengurus berkas tes CPNS. Disaat yang lain belajar untuk tes, aku malah pemulihan kesehatan. Ditambah pula kegiatan sekolah yang selalu padat. Malam kadang ku masih harus mempersiapkan untuk mengajar besoknya.

November, tiba saatnya tes SKD CPNS. Senang rasanya sebelum aku pergi, membayangkan akan bertemu dengan teman-teman kuliah dulu. Sesaat setelah tes selesai, hasilnya pun langsung keluar TWK 70, TIU 85, TKP 144. Harusnya aku lulus jika soal TWK kuulangi dan benar 1 soal lagi. Tapi aku harus berlapang dada. Hasil yang tanpa belajar, tak apa belum rejeki tahun ini. Aku selalu menenangkan hatiku, tak apa.. Tak apa.. Tapi sakit rasanya melihat yang lain bisa lanjut SKB, padahal dulunya saat kuliah atau sekolah jauh dibawahku. Maafkan daku yang iri ini.

Desember, aku bersyukur tugasku di dunia kerja bisa kuselesaikan dengan baik. Menyambut semester depan yang sangat padat, aku harus selalu sehat, selalu semangat dan lebih sering bersyukur. Libur 2 minggu, harus kumanfaatkan dengan baik. Minimal menyicil beberapa soal untuk kuajarkan di sekolah A.

Aku sudah siap menyongsong 2019. 

Minggu, 30 Desember 2018

Pembual

Sempat memiliki ketertarikan padamu sejak awal melihat di kampus. Tepatnya saat acara pengajian kampus, kau yang memakai kacamata dan aku yang melihatmu seperti Detektif Conan. Saat itu kau bersama temanmu yang tak kalah membuatku penasaran karena keunikannya. Temanmu, seorang pria berbaju putih dengan tas merah selempang. Jarang sekali ya sekarang pria memakai tas selempang. Dan dia adalah kenalan teman sejurusanku. Kau juga jadi kenal baik dengannya, bukan?

Beda jurusan. Tapi mungkin aku cukup terkenal diangkatanku, mahasiswa biasa yang teman-temannya luar biasa. Aku tak ikut BEM, tak ikut organisasi apa pun. Kuliah selesai ku langsung pulang. Orang-orang disekelilingku lah yang melakukan itu. Akhirnya aku juga dapat kenalan.

Entah aku lupa awalnya kita bisa sedekat ini. Tapi yang jelas, aku sering mengejekmu di depan temanku yang dulu kau dekati saat masih menjadi anggota BEM. Lalu kau jarang terlihat berkumpul bersama.

Rupanya kau mengembangkan sayap. Mungkin facebook lah yang menjadi jembatan penghubung pertama kali. Ketika aku mengganti foto profil, kau mulai menekan tanda suka. Sesekali kau berkomentar layaknya kita teman dekat. Lalu mulailah agak berani kau memulai cerita lewat chat. Beberapa akun media sosialku kau ikuti, dan kau kepo.

Aku sempat terbuai saat kau dengan penuh perhatian memberiku kabar setiap hari. Hingga aku sakit saat nyata bagiku kau membonceng wanita lain di depan mataku. Kau bilang dia sudah seperti adikmu. Oh, ya. Hatiku memang hancur saat itu, tapi aku tahu kartumu.

Lalu beberapa saatnya, kau dekati juga temanku yang lain. Bahkan kau rela mengantarkan mangga ke kosannya meski dia sedang menginap. Aku malu rasanya jika harus menceritakanmu kepada sahabatku semasa kuliah. "Sudah lah teh, dia juga mendekati Bunga. Tipe-tipe playboy."

Aku menjaga jarak. Aku mulai marah dengan mengabaikanmu. Membalas dengan singkat pesan-pesanmu atau hanya aku baca saja. Dunia juga tahu, tapi mungkin aku yang tak mau tahu tentang itu. Dia memang tak sebaik yang kukira.

Tiba saat aku yudisium, kau datang membawa setangkai bunga. Kau juga menjadikan fotoku berdua denganmu menjadi foto profil BBM saat itu. Aku terbuai (lagi). Besoknya kau datang lagi dengan membawa setangkai bunga yang lain untukku. Terima kasih, aku senang. Karena saat itu sebenarnya aku sedang menjalin hubungan dengan lelaki lain yang dia pun tak datang di hari besarku itu. Dia sedang di luar kota.

Aku sudah lulus, kau belum. Aku kembali ke kota kelahiranku, kau tetap disana. Aku tinggalkan semua kenangan, tapi kau ikut. Bersama semua kabarmu yang setiap pagi aku temui. Aku harus melupakan kekasihku yang dulu, kau datang sebagai yang baru.

Hingga aku tahu latar belakangmu, Orang Jawa tapi tinggal di Sumatera. Alasan kau menggunakan kacamata? Karena sering main game online. Kau bilang lumayan uangnya dari sana. Keluargamu yang sudah tak utuh lagi, semua kau ceritakan padaku kala itu. Lagi, aku terbuai.

Lama sudah aku tak menggunakan BBM, setahun berlalu kau terus mengintip instastory ku. Sering kau kirim DM. Saat itu kau minta no whatsapp ku. Aku beri.

Tak sengaja di depan orang lain yang beniat menjodohkanku dengan sesama rekan kerja, aku memperkenalkanmu sebagai kekasihku. Untukku menghindari perjodohan itu. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, kau yang menjadi alasanku.

Lalu kita kembali terbuai. Kau yang tak pernah mengaku punya pasangan, dan aku yang selalu percaya meski kemarin lusa aku melihat postingan seorang wanita di instagram mu. Aku terlena dengan kata-katamu. Kau begitu lincah mengombang-ambingkan perasaanku. Hampir setiap hari kau kirim pesan, bahkan lebih dari sebelum kau lulus dan menjadi mahasiswa S2 di Jogja. Kita menjadi dekat, semakin dekat. Aku berani bertanya "kapan kau akan melamar?". Kau bilang masih kuliah, masih banyak yang harus direncanakan. Aku tahu itu jawaban dari lelaki yang belum siap menikah dan belum serius denganku.

Baik. Aku masih menganggapmu orang baik. Entah mengapa, aku tiba-tiba tersadar. Aku mencium aroma perselingkuhan disini, dan apabila itu benar, akulah yang jadi orang ketiganya atau bahkan keempat, kelimanya. Aku tahu tabiatmu dari dulu namun aku terlalu sering kau buat terlena, hingga aku lupa aku ini siapa kau itu siapa. Aku ini dimana, kau pun dimana. Kita beda.

Maafkan aku, jikalau engkau jodohku. Sungguh sulit untukku mengubah kebiasaanmu. Yang sangat baik kepada semua wanita cantik dan manis. Terima kasih.

Jumat, 06 Juli 2018

La Tahzan

Sejatinya kita memang harus melupakan kesedihan di masa lalu. Aku sudah ikhlas atas kekecewaan yang terjadi minggu lalu, bulan lalu, atau bahkan tahun lalu yang terjadi padaku. Hanya saja aku sulit untuk melupakannya. Mendengar seseorang mengungkit kekecewaan itu, aku kembali berkecil hati. Ibarat pribahasa, nila setitik rusak susu sebelanga. Ini memang kelihatannya sepele bagi yang hanya ingin coba-coba, tapi bagaimana dengan orang yang benar-benar serius akan hal itu. Tidak dipungkiri, kecewa itu sangat amat mendalam. Merasa orang paling bodoh dan selalu bertanya-tanya apa yang salah pada diriku? Mata seolah enggan menangisi hal itu. Raga ini terlalu angkuh. Akan tetapi, rasa sakitnya itu sangat membekas di hati. Aku iri. Melihat seseorang yang kukenal bisa mencapainya, aku makin bertanya-tanya apa yang salah?
“Tidak, tidak ada yang salah pada diriku. Mungkin ada kesalahan pada orang sebelumku.”, gumamku dalam hati. Berhari-hari aku merasakan kekecewaan itu. Menjauh dari teman-teman. Puasa bicara di rumah. Melakukan sesuatu dengan terpaksa. Banyak termenung memikirkan hal yang tidak berguna. Selalu menyalahkan diri sendiri. Secara psikologis, aku sedang dalam keadaan tak baik. Jiwaku bisa dibilang terguncang. Tak dapat mengendalikan perasaan.
Oh, bodohnya. Mencoba ingin sendiri dengan menghilang tanpa kabar dari orang-orang membuatku sadar bahwa aku tak bisa sendiri. Manusia merupakan makhluk sosial. Menyadari hal itu, semuanya akan kembali baik-baik saja. Aku mencoba terbuka kembali pada orang lain. Meski aku tak bisa 100% percaya pada orang lain. Manusia itu memiliki sisi khilafnya, sebaik-baiknya orang adalah menyembunyikan aibnya dan aib saudaranya. Berkata yang semestinya saja. Sekarang mencoba tawakal atas apa yang terjadi. Kembali pepatah mengatakan, banyak jalan menuju Roma. Aku punya jalan sendiri untuk menggapai sesuatu yang menjadi milikku nantinya. Bukan dengan cara ini. Jika kekecewaan dirasakan sekarang, mungkin nanti bisa mengambil hikmah dari datangnya kekecewaan itu. Tak mengapa. Seseorang pernah mengatakan untuk selalu tersenyum dan membuat orang-orang di sekitarmu bahagia bila di dekatmu. Setidaknya kau bisa bermanfaat bagi orang lain dengan membuatnya senang. La tahzan J

Minggu, 04 Maret 2018

REINKARNASI

Semacam reinkarnasi saja. Rasanya baru kemarin aku lulus SMA. Masih terasa aroma putih abu-abu yang menyenangkan sekaligus menakutkan.

Aku memang bukan orang yang sukses dalam hal percintaan saat SMA. Pernah disukai Aldi yang nyatanya playboy. Suatu hari ketika latihan paduan suara, dia mulai mendekati aku sampai-sampai pulangnya mengikutiku jalan. Duh, malunya kalau diingat. Aku macam cacing kepanasan, salah tingkah dan terlihat bodoh. Semua berlalu karena dia sudah mendapatkan wanita lain, anak kelas sebelah.

Lalu mulailah aku cinta lokasi dengan teman sekelasku. Menjadi teman selama 3 tahun berturut-turut menimbulkan rasa kagum, lalu suka, bahkan ada benih-benih cinta. Pertama aku menyukai Fahri karena tampannya, baik hatinya, kepiawaiannya bermain alat musik  dan pandai bicaranya ketika diskusi kelas. Idaman lah pokoknya. Sadarnya bahwa dia terlalu "playboy" untukku. Memang benar pesona Fahri tak terkalahkan, dari mulai kelas atas hingga kelas bawah wanita-wanita mulai mengakui sebagai pacarnya. Aku mah apa atuh. Dan sekarang, aku masih suka dia tapi aku tau diri. Aku hanya mengganggapnya teman biasa.

Masih dengan teman sekelasku, aku mulai menyukai Ahmad. Karena rapinya, berwibawanya, caranya menanggapi masalah, baiknya, tidak setampan Fahri tapi lumayan. Tapi dia mudah dipengaruhi teman-teman geng nya. Aku tidak suka. Aku mah apa atuh (lagi). Aku sempat patah hati karena saat kelas XI dia mulai pacaran dengan adik kelas. Yakinlah itu pacar pertamanya. Lalu aku menganggapnya seperti biasa, mengurangi perasaan suka terhadapnya tapi masih ingin terus bersamanya meski hanya ngobrol biasa.

Sempat juga mengagumi kakak kelas. Kak Sakti, satu tingkat diatasku. Aku tak tau banyak selain namanya, kelasnya. Yang aku tahu dia putih, berkacamata, tinggi, tampan, bicaranya lembut, ngajinya bagus, anak rohis, anak PMR juga. Tapi ya sudahlah, semenjak dia lulus aku tak tau dia dimana selain informasi tentang dia kuliah di salah satu sekolah tinggi di kota ini.

Pernah juga menyukai brondong. Ketika aku kelas XI dan dia kelas X. Tepatnya setelah aku patah hati pada Ahmad. Aku masih ingat, itu hari sabtu. Seperti biasa, setiap pagi apel di lapangan sebelum masuk kelas. Aku merasakan seperti di film-film saja. Hanya melihatnya menuju padaku sementara yang lain berlalu tapi tak menghalangi pandanganku padanya. Dia, Ilham Yudha. Dia tinggi, hitam manis, senyumnya membuatku seketika jatuh cinta, rapi dan kharismanya luar biasa. Kebetulan juga sekelas dengan pacarnya Ahmad saat itu. Ilham dan Ahmad juga saling kenal karena pernah satu komplek dulunya. Dia juga termasuk playboy kelas teri, sering gonta-ganti pacar. Dia juga badboy, pernah merokok. Bahkan nama akun facebooknya dulu ilham cl*sm*ld (nama merk rokok). Sempat sedih karena difacebooknya waktu itu mengirim hal-hal tak senonoh. Aku tak percaya itu dia, shock. Di akun tersebut juga menjelekkan salah satu guru. Aku sampai-sampai sedih dia tertimpa masalah seperti itu, padahal bukan dia yang melakukannya. Karena sahabatku tau aku menyukainya, mereka rajin "ngepoin" kegiatannya. Sampai pada saat aku diberi nomor hp nya oleh salah satu temanku yang juga satu ekskul dengannya. Hampir sebulan nomor itu tak aku apa-apakan. Malu bukan jika perempuan memulainya. Sementara dia tak tertarik padaku. Lalu, pada bulan puasa sebelum maghrib. Aku dipaksa seolah salah kirim dengannya. Benar saja SMS ku itu langsung dibalasnya. Kami sempat terlibat lama, bicara banyak saat SMSan. Entah kapan saat kami sudah tak saling hubungi lagi. Dan aku ternyata dipertemukan lagi di Universitas, sering bertemu di perkumpulan daerah. Dan sekarang, aku benar-benar mengganggapnya sebagai adik tingkat meskipun kharismanya tak pernah pudar di hatiku.

Lalu.. Ini yang membuatku bahkan sakit ketika UJIAN NASIONAL. Matematika pula. Hanya karena melihatnya pulang bersama mantan kekasihnya kemarin. Dia Muhammad Arga Pradipta. Aku sudah mengenalnya sejak kelas 1 SMP. Satu kelas berturut-turut sejak SMP. Pernah dijodohkan oleh guru saat kelas 3, dan aku mulai suka. Sepertinya dia juga. Bertemu lagi di SMA. Memang tak sekelas, tapi sebelahan. Cinta monyet berlanjut di SMA. Suka gombal-gombalan atau mungkin aku yang terlalu baper dulunya (setelah baca arsip SMS). Dia memang playboy cap kapak. Pernah pacaran cuma sehari, nembaknya juga lewat SMS. Hmm.. Aku beberapa kali ditembaknya lewat SMS, tapi aku memilih untuk tidak memberi kepastian. Cintanya banyak sekali, aku sampai lupa. Dia pernah berjanji akan pulang bareng, tapi malah dia tak datang-datang setelah ujian sekolah PKN. Aku menunggunya tapi dia malah menitipkan bukuku kepada temanku. Dia juga pernah berjanji akan menyatakan cintanya secara langsung, tapi juga tak kunjung terlaksana. Aku memang suka kata-kata gombalnya. Dia tak begitu tampan, dia hitam manis, tinggi dan rapi. Aku juga tau dia orangnya baik, anak rumahan. Tapi sakit-sesakit sakitnya. Setelah UN hari pertama dia membonceng seorang wanita dan dia adalah Sonia, mantannya. Aku kepikiran sampai jatuh sakit. Bodohnya aku pernah menyukainya. Lalu aku menghindarinya. Setahun berlalu, setauku dia diterima di Universitas di Bengkulu. Tapi entah kenapa, Allah mempertemukanku dengannya di PK2 2013 dan dia sebagai adik tingkatku tapi beda prodi. Ada rasa senang, ada sedih dan kecewanya juga. Tapi sekarang jika bertemu dengannya, aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Aku sudah tak malu-malu lagi. Sama saat di kelas 1, 2 SMP.

Ingatan tentang Arga tak pernah hilang. Apalagi ketika aku mengajar di tempat les, ada yang sangat mirip dengannya, kepribadiannya dan tentu saja playboy nya juga. Namanya Dinar, teman sekelas adikku. Entahlah seperti reinkarnasi saja.