Translate

Sabtu, 07 November 2015

Amazing 21st!

Oktober sudah berlalu. Namun masih terasa tak mungkin, usiaku kini sudah melewati angka 21. Rasanya baru kemarin aku merayakan ulang tahun yang ke-17 di sekolah. Hari itu -10 Oktober 2015- aku merayakan 21 tahunku di sekolah juga, tempat P4 (Re: dulu PPL) di SMA Negeri 1 Indralaya Utara. Entahlah, mereka sungguh manis. XI IPA 1, terima kasih. Sebuah cupcake dengan dua buah lilin di atasnya cukup membuatku kaget kala itu. Ditambah lagi dengan lagu "Selamat ulang tahun" dari Jamrud yang diiringi dua buah alunan gitar dari Irza dan Bangki membuatku sungguh speechless. Aaah, tentu saja ini kongkalikong Nia alias Nyak (teman P4-ku) dan Ossy (Siswa XI IPA 1). Mereka sepertinya sudah lama merencanakan ini hihi. 

Meskipun kala itu, aku tak lagi mengajar di sekolah itu karena masa P4 sudah selesai. Hari itu, aku, Nyak, Deden, Surya, Efri, dan Dwi mengantar laporan P4 ke sekolah. Mungkin itu terakhir kalinya aku ke sekolah. Yaa sampai detik ini sejak 10 Oktober itu, aku tak pernah ke sekolah lagi. Kadang sangat merindu tingkah lucu mereka, manjanya, jahilnya, nakalnya dan semua sikap khas anak SMA. Tapi, apa boleh buat aku sibuk dengan kegiatan "semester atasku" saat ini dan mereka hidup seperti biasa seperti sebelumnya. Setidaknya, beberapa dari mereka membuatkan sebuah karya kecil mereka untukku.

Saat pagi hari, aku dikejutkan dengan kiriman foto-foto ini dari Ossy :)





Terima kasih, anak-anak manis kesayangan ibu ({}) Lalu siangnya, inilah sedikit kejutan dari mereka.





Manisnyaaaaa.. ucapan dan doa-doa baik dari mana-mana mengalir untukku dihari itu. Terima kasih untuk kalian yang tak bisa kusebutkan satu per satu. Ku-aamiin-kan semua doa terbaik kalian untukku, semoga juga berbalik padamu. Aamiin..

Ini video dari kembaranku di SMAN ULTRA, namanya Ryqina. Ya, banyak yang bilang aku mirip dengan siswaku yang satu ini. Meskipun sepertinya dia lebih cantik dan lebih tinggi daripada aku hihi



Ini hadiah dari Jogja, dari Mas Aziz pacarnya sahabat kesayanganku Mbak Tut. Padahal udah lama pengen banget dibuatin kayak gini, eh tapi dikasihnya pas aku ulang tahun. Makasih Mas Aziz dan Mbak Tut. Semoga kalian langgeng yah hehe

Senangnyaaaa. Tak hanya itu, aku dibuatkan sebuah tulisan dari game COC oleh salah satu siswaku yang pendiam di XI IPA 2, Imam namanya.

Lagi, aku berhasil mendekati siswa yang pendiam. Ini buatan Indah, XII IPA 1. Indah pernah membuatkanku doodle berisi namaku. Pada saat itu, pertama kali masuk di kelasnya aku melihat Indah sedang sibuk membuat doodle. Iseng-iseng aku minta buatkan juga. Aku hampir saja lupa, dia langsung memasang DP di BBM dengan doodle buatannya itu. Terharu~

Keesokan harinya, hari itu adalah hari minggu. Sudah kuduga, sepupu-sepupuku pasti merencanakan sesuatu. Ya, aku disini tinggal dengan Wak Dimi sekeluarga (keluarga besarku). Maklum, aku kuliah jauh dari orang tua. Seperti biasa, gerak-gerik mereka sudah kuketahui tapi aku pura-pura tidak tahu saja. Apalagi Wak Lena sudah heboh hehe. Taddaaaa!! Mereka datang dengan terompet, topi ulang tahun, kue double dan hadiah :D Terima kasih sepupu-sepupu tersayang, Yuk Dina, Widya, Nurul, Randa dan Randi. Kalian sanggup membuat ulang tahun dan keberadaanku berharga disini.





Lalu, 22 Oktober 2015. Late surprise party dari sahabat terbaikku di bangku kuliah ini. Wo Tamalia, Ayuk DAP, Dedek Arum, Mbak Bintus, dan Mbak Wik dibantu oleh adik kesayangan Wita dan S (Suharsih). Inyek Cantiks, i love you full full lah yaaaah hihi Padahal kejutan ini untuk aku dan Mbak Wik, tapi sayang Mbak Wik tak dapat hadir. Jadi seolah ini kejutan untukku seorang hehe




Dan ini... mungkin kejutan terakhir di 21 tahunku pada 28 Oktober 2015. Ini surprise party ter-antimainstream :v Kejutan ini dari gengs P4-ku tersayang, Fara, Nyak, Deden, dan Seju. Sayang, Seju tak dapat hadir karena kakaknya persiapan nikahan. Tak mengapa, aku mengerti. Inilah kelakuan mereka, kue ultah diganti pancake telur, lilin kue diganti lilin biasa, nulis umur kemudaan setahun, dan tempatnya di atas balkon lantai 3 Amanah 😸😹  Memang sih, sudah sejak lama aku ingin ke atas balkon itu hehe Terima kasih gengss muach muach..









Terima kasih, untuk semuanya. 21 tahun yang sangat berkesan. Meskipun masih ada yang belum bisa aku masukkan disini, seperti doodle dari lili (siswa kelas XI IPA 2), kiriman foto Tamalia, beberapa foto DP editan yang belum sempat ku-download kala itu, beberapa voice note dari Tamalia, Mbak Indah, dll. dan semua orang yang mengucapkan dan mendoakanku. Terima kasih πŸ˜˜


Terima kasih juga, Mama, Baba, Kakak, Raymond dan Icha. Doa dan support kalian selalu jadi penyemangatku setiap hari. Walaupun setiap ulang tahunku, aku selalu jauh dari kalian tapi doa kalian selalu mengiringi setiap hari. 

Terima kasih, Tuhanku Maha Besar, Allahu Ta'ala. Berkatnya lah, aku masih bisa menghirup udara hingga saat ini. Tak henti aku bersyukur atas rahmat-Mu ya Allah. Semoga Engkau jadikan hidupku bermanfaat bagi orang-orang disekelilingku, Engkau jadikan aku hamba yang sabar dan selalu berada di jalan-Mu. Berkahilah setiap umur hamba ya Alllah. Aamiin allahuma aamiin...

Selasa, 08 September 2015

Selamat Malam

Katakanlah malam pada pagi,
Bahwa aku merindunya.
Merindu aroma embun yang menyelimuti fajar
Menanti mentari yang kian beranjak naik

Katakan, katakan pagi. Kini aku merindu siang.
Kala terik berada tepat di atas ubun-ubun.
Lalu beranjak meredup sinarnya.

Katakan siang bahwa aku, aku merindu petang yang mendamaikan.
Di ufuk barat samar-samar cahaya makin menghilang.
Dan kini, petang..
Aku mulai merindu malam, malamku yang tenang.
Malamku yang selalu bertaburan bulan bintang.

Selamat malam

Minggu, 17 Mei 2015

Aktivis Sejati

Apa kabar? Engkau yang tak berkabar. Semoga engkau tetap beriman seperti katamu biasanya. Dirimu sibuk dengan duniamu. Suatu kebanggaan bisa mengenalmu. Aku yang hanya seorang anak akademis, katamu. Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu ada padamu. Lelah? Aku tahu. Hari ini mungkin sangat penting bagimu. Mestilah tidurmu tak nyenyak semalam. Resah. Menantikan esok yang sangat berarti demi kemaslahatan orang lain.

Bagai bumi langit. Kita berbeda untuk hal satu ini. Kuliah, utama buatku. Organisasi hampir aku tak punya kecuali himpunan prodi dan kedaerahan. Itupun bisa dibilang sudah tak begitu aktif lagi. Engkau yang makin menggebu, makin jarang kulihat. Lalu hari ini, sebuah gebrakan besar telah dibuat mahasiswa di Universitas tempatku sekarang ini. Aku salah satu mahasiswa yang apatis. Saat beribu mahasiswa ikut turun ke jalan menyuarakan perbaikan jalan, kami sibuk ujian tengah semester.

Ada rasa menyesal tak ikut. Bukan untuk "gaya-gayaan" ikut aksi tapi benar ingin dari hati. Ah tapi, sudah lewat. Gedung DPRD mendadak menguning oleh lautan mahasiswa. Lalu di semua media sosial sibuk membicarakan aksi ini. Masya Allah, satu lagi yang membuat haru. Saat melihat berita, mahasiswa melakukan shalat dzuhur berjamaah di depan Gedung DPRD. Tanpa air untuk wudhu, mereka tayamum. Dan engkau salah satu diantara beribu mahasiswa lainnya. Sebuah kepuasan dalam dirimu melihat gebrakan begitu hebat telah tercipta hari ini dan kau bagian darinya.

Membayangkanmu di tengah aksi, pastilah dilakukan secara total. Sebuah foto yang kulihat di sebuah media sosial, membuktikan spekulasiku. Engkau dengan heroiknya menyuarakan aksi. Sampai-sampai pujian "luar biasa" dari sang pengunggah mengiringi caption di fotomu itu. Engkau memang aktivis sejati. Hatimu resah tiap kali ada yang salah di negeri ini. Relasimu berkembang hingga ke pelosok Indonesia. Luar biasa. 



Sumber gambar: BEM_KMUnsri
Aksi #SaveJalanPLGLayo, 25 Maret 2015
 

Kamis, 05 Maret 2015

Aku temanmu!

Kita bertemu karena memang sudah jalannya untuk bertemu. Seperti pepatah, ada pertemuan ada perpisahan. Kutemukan banyak kesamaan. Didekatmu ku nyaman. Dari segi selera kita hampir sama. Dirimu yg terbuka dan ceria meski agak sedikit jutek, membuatku merasa senang menjadi temanmu. Lalu bagai sepenggal lirik lagu, mengapa ada pertemuan jika akhirnya harus berpisah. Kau memang masih di depanku. Kita masih saling bertemu. Namun entahlah, jarak kita begitu jauh. Bahkan untuk menjangkau tanganmu sulit rasanya. Meskipun kita selalu mencoba memperpendek jarak itu. Melihatmu, aku sedih. Betapa menyedihkannya nasib pertemanan ini.

"Jangan kangen", katamu. Bagaimana aku bisa tak kangen? Lalu aku seolah tak peduli, karena sakit bila harus melihatmu. Namun tahukah engkau teman? aku masih temanmu. Apalagi nyatanya kini, engkau memilih teman lain untuk jadi teman dekatmu. Entah apa ini rasanya, aku cemburu. Mungkin lebih dari rasa sakit seorang mantan kekasih yang masih cinta melihatnya pergi dengan kekasih baru. Sakiiiit, sakiiit, sakitnya tuh disini! *ehh* Maafkanlah aku yang pencemburu ini.

Sungguh dada serasa sesak, melihat semua hal yang kau lakukan. Aku tak berhenti mengamatimu. Tapi aku bahagia, nampaknya kau bahagia dengan teman-teman barumu. Mungkin kau merasa lebih dipedulikan. Mungkin kau merasa lebih klop dengan mereka. Tak apa, aku ikut senang. Setidaknya, aku temanmu dulu. Meski saat ini pun, aku masih temanmu. Teman yang "jaraknya" jauh. Tiba saat kita benar-benar harus berpisah, mungkin aku masih tak mampu katakan. Aku kangen!