Translate

Minggu, 04 Maret 2018

REINKARNASI

Semacam reinkarnasi saja. Rasanya baru kemarin aku lulus SMA. Masih terasa aroma putih abu-abu yang menyenangkan sekaligus menakutkan.

Aku memang bukan orang yang sukses dalam hal percintaan saat SMA. Pernah disukai Aldi yang nyatanya playboy. Suatu hari ketika latihan paduan suara, dia mulai mendekati aku sampai-sampai pulangnya mengikutiku jalan. Duh, malunya kalau diingat. Aku macam cacing kepanasan, salah tingkah dan terlihat bodoh. Semua berlalu karena dia sudah mendapatkan wanita lain, anak kelas sebelah.

Lalu mulailah aku cinta lokasi dengan teman sekelasku. Menjadi teman selama 3 tahun berturut-turut menimbulkan rasa kagum, lalu suka, bahkan ada benih-benih cinta. Pertama aku menyukai Fahri karena tampannya, baik hatinya, kepiawaiannya bermain alat musik  dan pandai bicaranya ketika diskusi kelas. Idaman lah pokoknya. Sadarnya bahwa dia terlalu "playboy" untukku. Memang benar pesona Fahri tak terkalahkan, dari mulai kelas atas hingga kelas bawah wanita-wanita mulai mengakui sebagai pacarnya. Aku mah apa atuh. Dan sekarang, aku masih suka dia tapi aku tau diri. Aku hanya mengganggapnya teman biasa.

Masih dengan teman sekelasku, aku mulai menyukai Ahmad. Karena rapinya, berwibawanya, caranya menanggapi masalah, baiknya, tidak setampan Fahri tapi lumayan. Tapi dia mudah dipengaruhi teman-teman geng nya. Aku tidak suka. Aku mah apa atuh (lagi). Aku sempat patah hati karena saat kelas XI dia mulai pacaran dengan adik kelas. Yakinlah itu pacar pertamanya. Lalu aku menganggapnya seperti biasa, mengurangi perasaan suka terhadapnya tapi masih ingin terus bersamanya meski hanya ngobrol biasa.

Sempat juga mengagumi kakak kelas. Kak Sakti, satu tingkat diatasku. Aku tak tau banyak selain namanya, kelasnya. Yang aku tahu dia putih, berkacamata, tinggi, tampan, bicaranya lembut, ngajinya bagus, anak rohis, anak PMR juga. Tapi ya sudahlah, semenjak dia lulus aku tak tau dia dimana selain informasi tentang dia kuliah di salah satu sekolah tinggi di kota ini.

Pernah juga menyukai brondong. Ketika aku kelas XI dan dia kelas X. Tepatnya setelah aku patah hati pada Ahmad. Aku masih ingat, itu hari sabtu. Seperti biasa, setiap pagi apel di lapangan sebelum masuk kelas. Aku merasakan seperti di film-film saja. Hanya melihatnya menuju padaku sementara yang lain berlalu tapi tak menghalangi pandanganku padanya. Dia, Ilham Yudha. Dia tinggi, hitam manis, senyumnya membuatku seketika jatuh cinta, rapi dan kharismanya luar biasa. Kebetulan juga sekelas dengan pacarnya Ahmad saat itu. Ilham dan Ahmad juga saling kenal karena pernah satu komplek dulunya. Dia juga termasuk playboy kelas teri, sering gonta-ganti pacar. Dia juga badboy, pernah merokok. Bahkan nama akun facebooknya dulu ilham cl*sm*ld (nama merk rokok). Sempat sedih karena difacebooknya waktu itu mengirim hal-hal tak senonoh. Aku tak percaya itu dia, shock. Di akun tersebut juga menjelekkan salah satu guru. Aku sampai-sampai sedih dia tertimpa masalah seperti itu, padahal bukan dia yang melakukannya. Karena sahabatku tau aku menyukainya, mereka rajin "ngepoin" kegiatannya. Sampai pada saat aku diberi nomor hp nya oleh salah satu temanku yang juga satu ekskul dengannya. Hampir sebulan nomor itu tak aku apa-apakan. Malu bukan jika perempuan memulainya. Sementara dia tak tertarik padaku. Lalu, pada bulan puasa sebelum maghrib. Aku dipaksa seolah salah kirim dengannya. Benar saja SMS ku itu langsung dibalasnya. Kami sempat terlibat lama, bicara banyak saat SMSan. Entah kapan saat kami sudah tak saling hubungi lagi. Dan aku ternyata dipertemukan lagi di Universitas, sering bertemu di perkumpulan daerah. Dan sekarang, aku benar-benar mengganggapnya sebagai adik tingkat meskipun kharismanya tak pernah pudar di hatiku.

Lalu.. Ini yang membuatku bahkan sakit ketika UJIAN NASIONAL. Matematika pula. Hanya karena melihatnya pulang bersama mantan kekasihnya kemarin. Dia Muhammad Arga Pradipta. Aku sudah mengenalnya sejak kelas 1 SMP. Satu kelas berturut-turut sejak SMP. Pernah dijodohkan oleh guru saat kelas 3, dan aku mulai suka. Sepertinya dia juga. Bertemu lagi di SMA. Memang tak sekelas, tapi sebelahan. Cinta monyet berlanjut di SMA. Suka gombal-gombalan atau mungkin aku yang terlalu baper dulunya (setelah baca arsip SMS). Dia memang playboy cap kapak. Pernah pacaran cuma sehari, nembaknya juga lewat SMS. Hmm.. Aku beberapa kali ditembaknya lewat SMS, tapi aku memilih untuk tidak memberi kepastian. Cintanya banyak sekali, aku sampai lupa. Dia pernah berjanji akan pulang bareng, tapi malah dia tak datang-datang setelah ujian sekolah PKN. Aku menunggunya tapi dia malah menitipkan bukuku kepada temanku. Dia juga pernah berjanji akan menyatakan cintanya secara langsung, tapi juga tak kunjung terlaksana. Aku memang suka kata-kata gombalnya. Dia tak begitu tampan, dia hitam manis, tinggi dan rapi. Aku juga tau dia orangnya baik, anak rumahan. Tapi sakit-sesakit sakitnya. Setelah UN hari pertama dia membonceng seorang wanita dan dia adalah Sonia, mantannya. Aku kepikiran sampai jatuh sakit. Bodohnya aku pernah menyukainya. Lalu aku menghindarinya. Setahun berlalu, setauku dia diterima di Universitas di Bengkulu. Tapi entah kenapa, Allah mempertemukanku dengannya di PK2 2013 dan dia sebagai adik tingkatku tapi beda prodi. Ada rasa senang, ada sedih dan kecewanya juga. Tapi sekarang jika bertemu dengannya, aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Aku sudah tak malu-malu lagi. Sama saat di kelas 1, 2 SMP.

Ingatan tentang Arga tak pernah hilang. Apalagi ketika aku mengajar di tempat les, ada yang sangat mirip dengannya, kepribadiannya dan tentu saja playboy nya juga. Namanya Dinar, teman sekelas adikku. Entahlah seperti reinkarnasi saja. 

Senin, 06 November 2017

Mantan yang Masih Cinta

Aku hanya ingin mengenangnya malam ini. Akan kusampaikan sebuah rindu pada argon di udara. Untukmu, yang terlalu sering menemaniku suka dan duka. Dari cerita paling indah hingga cerita paling nestapa. Ketika kita saling menunggu di ruang baca, depan prodi, mushollah, atau dekanat. Ah ini tempat favorit, dekanat! Tempat paling nyaman ketika mendapat tempat duduk dan dekat "colokan" pula. Tempat paling diburu mahasiswa yang minim paket data internet. Tak jarang pula menjadi tempat bertemunya empat mata yang mulai mengisyaratkan cinta.

Masih ingatkah engkau? Ketika tiba waktunya makan siang. Mau makan di kantin mana? Mau makan apa? Baiklah, kita banyak pilihan tempat dan makanan. Hmm.. Selera mungkin tak sama, tapi tak ada yang memungkiri nikmatnya batagor fisip, mie ayam bakso kantin reyhan, mie ayam bakso kantin ekonomi, pindang tulang kantin cindy, dan teh manis gratisnya kantin ibu tengah tiap jumat.

Lalu, kendaraan apakah yang paling sering kau gunakan menuju kampus? Angkot kuning primadona, mulai dari harga Rp. 1.000, naik menjadi Rp. 2.000 sampai Rp. 3.000 untuk area kampus. Kita mempunyai beberapa lokasi kampus yang jaraknya mencapai 32 KM. Angkot kuning tak bisa mencapainya. Transportasi favorit adalah TM alias TransMusi. Harga murah, nyaman pula. Khusus untuk mahasiswa yang kantongnya selalu bolong. Pilihan lain dengan menggunakan bus kuning, harga pasti lebih murah dari TM. Ya, ada tapinya. Untuk kenyamanan, transportasi ini kurang. Ada satu hal yang menjadi ciri khas saat akan menaiki bus kuning, yakni "kenek" bus tersebut menyebut semua penumpang dengan sebutan, "mer". Entah dari mana asalnya. Atau bisa menggunakan bus "kaleng" untuk umum. Disini rawan copet, tempatnya tak nyaman, namun paling diminati warga.

Di akhir masa-masa perjuangan, masih ingatkah tempat favorit kita? Ruang baca >> Perpustakaan pusat >> Ruang jurnal dan skripsi >> "ngeper" di depan ruang prodi sambil cerita ini itu ahh rindunya. Tak jarang dimarahi dosen prodi lain karena banyaknya mahasiswa yang duduk menghalangi jalan. Tempatnya menggalau ria karena di PHP dosen. Tempatnya dapat ilmu baru dari kakak tingkat maupun dari teman yang sudah lebih dulu mengerjakan skripsi. Tempatnya berbahagia setelah mendapat tulisan ACC di draft skripsi. Tempatnya internetan gratis, itu yang membuat selalu betah disana.

Kampusku, sekarang sudah beda. Semua serba baru tapi aku belum bisa mengunjunginya lagi. Entah suatu saat, ketika waktuku ada di sana, penghuninya sudah tak ada yang mengenalku. Bagai orang asing di tempat lama. Tanpa kalian yang selalu menemani, sungguh kampus tercinta terasa hampa.
Aku hanyalah alumnus, kini. Namun cinta pada almamater, tak akan pernah luntur. Seperti mantan tapi masih cinta. 

Jumat, 07 Juli 2017

Menjemput Sarjana Pendidikan

Mahasiswa tingkat akhir atau Mahasisa. Sebuah julukan yang masih akrab ditelinga ketika mahasiswa lainnya sudah lulus tetapi diri ini belum. Ya, saat ini aku sudah memasuki semester 9. Aku yang menjadi mahasiswa karena beasiswa harus membayar SPP karena sudah lewat 8 semester. Bukan karena malas kuliah, hanya saja aku kurang beruntung saat pembagian Dosen Pembimbing Skripsi. Dosen pembimbingku salah satunya adalah pembimbing akademikku. Beliau baik, namun terkenal suka mempersulit mahasiswanya.

Banyak kesulitan terjadi selama masa kuliah. Akan tetapi masa-masa tersulit dimulai saat semester 7. Aku belum berani bimbingan karena tahu dosenku sungguh sulit. Pertama kali aku menemui beliau, aku sudah tak sejalan dengannya. Oleh sebab itulah aku memutuskan untuk tidak menemui beliau untuk sementara waktu. Agustus-September 2015, aku asyik dengan kegiatan P4 (dulunya PPL) di sekolah. Bahagia rasanya menjadi guru. Sampai-sampai aku lupa kalau setelah itu aku harus berjuang dengan tugas akhir. Sempat berpikir, “Pengen langsung jadi guru aja, gak usah skripsian”. Oh tapi aku sadar, tanpa menyelesaikan tugas akhir bernama SKRIPSI, aku tak bisa begitu saja menjadi guru yang bergelar Sarjana Pendidikan. Kuliahku selama ini sia-sia jika aku berhenti. Selangkah lagi.

Perjuangan ‘selangkah lagi’ yang kukatakan sebelumnya ternyata mengalami proses yang amat sangat panjang. Setelah selesai melaksanakan P4 di sekolah. Aku mulai bersemangat menemui dosen pembimbingku. Mungkin beliau lupa tentang masalah beberapa bulan lalu. Ah, lagi. Aku sial! Ketika bimbingan dengan dosen pembimbing 1, tiba-tiba dosen pembimbing 2 juga datang ikut nimbrung. Benar saja keduanya memintaku untuk penelitian murni. Aku yang tak berdaya ini mau tak mau harus mengikuti mereka kalau mau lulus. Risikonya aku sudah tahu, penelitianku akan susah, mahal dan lama. Tapi kedua dosenku berdalih kalau penelitian murni bisa cepat lulus. Bodohnya aku tanpa pikir panjang aku percaya saja.

Aku yang memang dasarnya adalah anak penurut ini tak mampu menolak permintaan kedua dosen pembimbingku. Baiklah, aku coba dulu. Bimbingan pertama, kedua masih lancar.  Lalu yang ketiga agak kacau, bimbingan keempat kalinya masih ada yang harus diperbaiki tapi langsung di ACC untuk maju seminar proposal di awal Desember, tepatnya tanggal 8 Desember 2015. Seminar terakhir di semester itu. Agak suram karena proposalku habis dibantai penguji bahkan oleh pembimbingku sendiri. Bongkar lagi. Buat baru lagi. Cari ide lain lagi. Pikirkan lagi. Sementara di depan mata libur semester telah menanti, dosen pun tak bisa ditemui.

Awalnya penelitianku berjudul, “Identifikasi Komposisi Kimia dan Pembuatan Arang Putih (Binchotan) dari Cangkang Buah Karet”. Rumit ya kan? Makanya aku habis dibantai pada saat seminar proposal. Untungnya meskipun seminar proposal kacau dan dibantai, aku tidak disuruh mengulang seminar oleh para dosen tersebut.

Masuk semester 8, penelitianku terombang ambing. Tetap penelitian awal atau mengubah penelitian tersebut menjadi briket? Semua dosen penguji menyaraknan itu, juga PS 2 (Pemimbing Skripsi 2) yang saat itu mendampingi seminar. Nah, ini masalahnya? PS 1 tak melihat aku dibantai di seminar karena beliau sibuk menguji mahasiswa lainnya di ruang berbeda. Jadilah beliau yang tak tahu apa-apa tapi tetap kekeuh pada penelitian awal. Butuh waktu sebulan untuk bisa meyakinkan hati dosen PS 1 ku. Alhamdulillah, beliau dilembutkan hatinya. Dan pada akhirnya judul penelitianku menjadi, “Pembuatan Briket dari Cangkang Buah Karet (Hevea brasilliensis)”.

***Selamat datang di masa penelitian yang panjang***

Setelah ACC revisi proposal penelitian, aku sudah diperbolehkan untuk penelitian. Senangnya. Perjuangan dimulai ketika mengurus berkas untuk pengambilan sampel cangkang buah karet. “Mau ambil cangkang buah karet aja ribet amat ya? Pake surat-surat segala. Lama lagi nunggu suratnya”, gumamku. Aku tak sendirian, ada 2 temanku yang bernasib sama denganku. Kami harus bersahabat dengan cangkang buah karet.

Setelah surat-menyurat beres, kami langsung menuju Balai Pembibitan Karet Sembawa. Lumayan jauh dari tempat tinggalku. Indralaya-Sembawa, sekitar 2 jam lebih. Tapi rumah kedua temanku itu di Palembang, jadi waktu yang dibutuhkan tak sampai 1 jam kesana. Dari pagi sampai sore mungut cangkang buah karet, sampai bentol-bentol seluruh badan karena digigit nyamuk kebon. Si cangkang buah karet yang kami ambil tak bisa langsung dipakai, harus dibersihkan dari tanah dan harus dikeringkan pula. Coba bayangkan harus membersihkan satu per satu cangkang buah karet sebanyak 3 karung! Wow, dari pagi sampai malam. Setiap hari membersihkan cangkang. Sampai-sampai tangan luka karena kena kulit cangkang yang tajam. Semua itu pengorbanan.

Pertengahan Februari 2016 aku sudah mulai masuk lab. Pemasukan yang mahal dan per hari juga mahal karena itu bukan lab di kampusku. Oke, aku harus cepat! Tak sampai 2 minggu penelitianku selesai. Tapi menunggu uji nilai kalor di lab yang berbeda harus menunggu waktu 2 minggu. Setelah uji lab keluar, aku bimbingan dan hasilnya aku harus mengulang penelitianku dari awal. Sedihnyaaaa. Itu berarti aku harus mengeluarkan dana dan waktu lagi.

Sementara persediaan cangkang kami sudah habis. Kami (bertiga) sudah tak sejalan lagi, artinya sudah sibuk penelitian masing-masing. Aku harus mengambil cangkang buah karet sendiri. Kakakku bekerja tak jauh dari sana, akhirnya aku minta ditemani olehnya. Masalah cangkang beres, pikirku. Ketika aku akan penelitian lagi, pihak lab bilang sudah ada mahasiswa lain yang penelitian disana. Dan itu artinya, aku harus mencari lab lain yang ada furnace-nya. Karena penelitianku sangat bergantung pada furnace. Aku hampir patah semangat karena aku harus mengeluarkan dana lebih lagi dan pastinya harus mengurus surat-menyurat lagi yang rumit lagi lama. Padahal aku ingin cepat selesai penelitian. Target wisuda bulan April, lewat. Baiklah aku sudah mendapatkan lab yang bisa aku pakai penelitian, tapi suratku belum jadi makanya harus menunggu dulu. 2 minggu kemudian suratku jadi, tapi malah alatnya yang rusak. Baru kemarin pula rusaknya. Oh Tuhaaaaan!! Ya, aku ingat. Ada Lab Dasar Bersama, tempatku praktikum dulu. Disana ada alat baru di lab Kimia Fisika. Alhamdulillah analisnya masih kenal dan baik hati memperbolehkan penelitian meskipun belum ada surat dari dekanat. Sebulan sudah aku penelitian disana, Mei baru selesai. Target wisuda bulan Juni lewat pula.

Target wisuda Agustus juga nampaknya tak bisa. Aku belum bimbingan lagi, belum seminar hasil, belum juga sidang skripsi. Perjalanan masih panjang. Setelah selesai penelitian, aku tak bisa bimbingan karena dosen sudah mulai liburan. Baiklah kita liburan juga. Tinggal mudik dulu saja. Setidaknya penelitianku sudah selesai tinggal mengolah data dan mulai membuat pembahasan.

***Penelitian yang panjang akhirnya selesai***

Memasuki babak baru, yuhuuu semester 9 yang kurindukan. Berharap bisa lulus di semester ini. Sudah bosan ditanya “kapan wisuda? Kok belum lulus?”. Akhirnya 6 September 2017, aku bisa seminar hasil. Kali ini dosen PS 1 yang menemani seminar. Beliau tiba di kampus tepat beberapa menit sebelum giliranku maju. Alhamdulillah semua lancar, beliau juga membelaku dan menasihatiku layaknya seorang ayah dan anaknya. Aku terharu, beliau ternyata begitu perhatian dengan mahasiswa bimbingannya. Meskipun agak keras tapi beliau hatinya lembut. Pernah saat penelitian (yang diulang) aku tak bimbingan selama 3 minggu karena belum dapat data. Beliau tahu betul aku tak bimbingan sudah 3 minggu, perhatian kan? Revisi seminar hasil juga tak banyak, jadi bisa daftar sidang bulan Oktober.

Oktober semangat! Betapa bahagianya aku menyambut Bulan Oktober. Ini bulan lahirku dan juga momen pentingku untuk menjemput gelar Sarjana Pendidikan. Saking semangatnya aku, rela bolak-balik Palembang-Indralaya supaya cepat di ACC sidang. Minta tanda tangan ini, minta tanda tangan itu. Urus berkas ini, urus berkas itu. Banyak prosesnya. Bulan ini sangat banyak mahasiswa yang akan sidang. Sidang yang biasanya hanya satu hari dalam sebulan, kali ini dibuat 2 hari. Sempat dengar berita simpang siur sana sini yang membuat gugup bertambah.

Tragedi sebelum sidang terjadi. 10 Oktober adalah hari ulang tahunku, namun pada tanggal 23 Oktober (H-3 sidang) sahabatku sejak bangku SMA memberikan sebuah kejutan ulang tahun kepadaku. Nah pada saat itulah HP ku rusak, entah karena apa penyebabnya. Aku belum sempat ke Palembang lagi untuk memperbaikinya, masih ada HP kecil yang bisa dipakai untuk SMS dan telpon. Selasa pagi (H-1 sidang), aku dapat kabar bahwa seluruh mahasiswa yang akan sidang harus hadir di Kampus Ogan Palembang. Palembang-Indralaya itu butuh 1 jam lebih, belum lagi pagi itu hujan deras. Rumahku jauh dari halte TransMusi. Pergi dengan kehujanan, sembari membawa tas berisi baju untuk menginap dan perlengkapan sidang. Sampai di kampus, ZONK! Aku yang sudah kucel, kelaparan dan basah kuyup ternyata kedatanganku sia-sia. Aku tetap sidang besok (Rabu, 26 Oktober 2016). Baiklah, aku akan tetap bersabar.

Malamnya, aku menginap di salah satu rumah teman se-PA-ku di dekat Kampus Ogan. Bukannya belajar untuk sidang, kami bertiga malah membuat sebuah pesta kecil karena aku ulang tahun di tanggal 10 dan temanku yang satunya ulang tahun di hari itu. Sedikit ketakutan tapi tak enak kalau aku tinggal mereka belajar di kamar. Dan aku tertidur nyenyak tanpa dosa setelahnya. Bangun pagi! Oh Tuhan, hari ini aku sidang tapi semalam tak belajar! Ada rasa menyesal, tapi ya mau bagaimana lagi semua sudah lewat.

Aku dapat jadwal maju sidang jam 10. Semua sudah siap. Aku semakin tegang. Dosen PS 2 sudah hadir, satu dosen penguji ke luar negeri, satu sudah hadir dan tinggal menunggu satu penguji lagi. Aku agak cemas karena jam 09.45 dosen pengujiku belum datang. Jika beliau tak datang, sidangku akan diundur. Beliau juga ada jadwal mengajar hari itu di Indralaya. Tapi tak berapa lama sebelum aku maju, beliau datang. Alhamdulillah. Sidang lancar. Dan aku lulus ujian akhir.

Dan lagi, revisiku tak banyak jadi bisa daftar wisuda Desember. Akhirnya, bisa wisuda di semester 9 dengan predikat “CUMLAUDE / DENGAN PUJIAN”. Tepatnya, yudisium tanggal 7 Desember 2016 dan wisuda tanggal 8 Desember 2016. Mulai dari seminar proposal sampai wisuda, tepat satu tahun (8 Desember 2015-8 Desember 2016).


Dari pengalamanku yang sangat amat panjang ini, percayalah bahwa semua ada masanya. Termasuk masa-masa mengerjakan skripsi yang melelahkan tapi juga akan dirindukan. Lulus pasti ada waktunya, di waktu yang tepat bagi kita. Aku yang termasuk agak telat lulusnya (4 tahun 2 bulan masa studi), menyadari bahwa aku bisa semakin dekat dengan kedua dosen pembimbing skripsi dan dosen pengujiku. Aku juga bisa mengenal dan lebih akrab dengan teman-temanku yang kurang akrab sebelumnya. Menjalin relasi lebih luas lagi karena pindah-pindah lab. Akrab dengan admin prodi karena suratku tak kunjung selesai. Dan pastinya, aku mengukir kenangan manis di FKIP UNSRI. Terima kasih, aku sudah dapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Aku sekarang, Ina Ayu Nengtyas, S.Pd. 

 *** Galeri Foto ***

Foto bersama Dra. Bety Lesmini, M.Sc. Dosen Pembimbing 2 setelah sidang

Foto setelah sidang
Foto yudisium bersama sahabat (minus 1 karena sudah lulus duluan)


Foto bersama Mama, Baba dan Makwo sebelum masuk Auditorium


Foto setelah wisuda


Minggu, 08 Januari 2017

Welcome to the Jungle

Hidup yang sebenarnya baru terasa ketika tamat kuliah dan memasuki dunia kerja. Aku yang lulusan keguruan ini juga susah mendapatkan kerja. Walaupun jurusanku termasuk jarang dan sulit. Ya beginilah, kehidupan pasca wisuda memang keras. Dunia terasa begitu kejam. Meskipun baru sebulan aku mendapatkan gelarku.
Aku memang tak betahan orangnya. Dulu waktu SD ingin cepat SMP. Ketika SMP ingin cepat SMA. Saat SMA ingin cepat kuliah dan meninggalkan kampung halaman. Waktu kuliah ingin cepat lulus dan pulang ke kampung halaman. Realitanya kini, aku sudah disini. Kampung halamanku, tempat kelahiranku. Aku seolah tak berharga. Atau mungkin belum berharga.
Ada rasa ingin kembali merantau. Tapi biaya sudah habis. Berwisausaha aku juga tak begitu mahir.
Yaa gitulah, welcome to the jungle memang tepat untuk kehidupan pasca wisuda hihi