Translate

Senin, 31 Desember 2018

Di Penghujung 2018

Malam ini tanggal 31 Desember 2018. Tak ada perayaan spesial, ya seperti biasa. Ibu dan adik bungsuku sedang sakit. Terdengar suara dzikir dari masjid kampung sebelah bersahutan dengan suara kembang api di tempat lain. Kami hanya di rumah saja. Akhir tahun aku tutup dengan puasa sunnah senin-kamis.

Semakin malam, suara dentuman kembang api makin terdengar keras di udara. Aku sesungguhnya tak suka suara itu. Mengganggu jadwal tidurku saja. Lalu mulai tak bisa tidur, meski sudah sedari tadi niat tidur cepat.

Sesekali scroll layar handphone, kulihat masih banyak status yang sibuk dengan semua yang berbau bakar-bakaran. Khas malam pergantian tahun baru masehi. Lalu aku bosan, dan mengingat apa yang telah dicapai selama 2018.

Januari 2018, dimulai dengan perjalanan yang amat sibuk dan menghabiskan dana yang lumayan. Aku tes TOEFL, persiapan untuk ikut beasiswa S2. Bayar mahal, dan tak belajar. Alhamdulillah nilai TOEFL ku memenuhi syarat 410, meski tak amat besar. Membuat SKCK, membuat surat keterangan dari BNN, surat keterangan dokter, dll. Semuanya ditemani adik laki-lakiku, kebetulan dia juga tahun ini lulus SMA. Tentu keperluan surat seperti itu akan dibutuhkan nantinya.

Februari, Maret, April, dan Mei, aku terlalu asyik dengan dunia kerja. Hingga lupa ada yang harus aku selesaikan untuk menunjang keberhasilan beasiswaku nantinya. Ya, esai. Tiga jenks esai yang tak terselesaikan, aku lalai. Kebiasaanku menunda sesuatu harus aku hilangkan.

Tiba saat deadline. Hari terakhir pengiriman berkas, 08 Juni 2018. Aku masih sibuk mengedit esai ku. Hingga saat upload file, aku telat sepersekian detik. Aku sudah pesimis, beberapa syarat ternyata aku juga belum punya. Aku marah pada diriku sendiri. Padahal kali ini kesempatan terakhirku untuk bisa ikut beasiswa itu.

Juli. Libur tahun ajaran baru. Entah apa yang aku lakukan selama libur. Aku lupa. Sampai pada pertengahan Bulan Juli, sekolah sudah dimulai kembali. Aku yang awalnya mengajar di 2 sekolah dan 1 tempat bimbel, tahun ajaran baruvkali ini diberi amanah yang luar biasa. Di sekolah A, aku mengampu 3 tingkatan kelas sekaligus. Kelas X, XI, XII dan tiap minggu harus menyediakan soal-soal yang berbeda. Dan juga sekaligus pembimbing olimpiade yang tiap minghu juga harus menyediakan soal-soal olimpiade yang -taulah ya susahnya-. Di sekolah B, aku dipercayakan menjadi wali kelas, pembina 7K pula. Di bimbel, seperti biasa masih bisa mengikuti jadwalku yang padat di sekolah.

Lalu, aku juga mengajar di sekolah C. Disana memang membutuhkan guru bidang studi yang aku ampu. Tempat baru, aku sayang dengan siswanya. Mereka lebih sopan dan lebih peduli dengan guru. Meskipun lingkungan sekolahnya aku belum begitu bisa beradaptasi, belum sehati. Ingin rasanya aku lepas saja, tapi aku terlanjur sayang dengan siswanya.

Agustus, menjadi bulan tersibuk. Karena banyaknya acara di bulan ini, aku hampir putus asa memikirkannya. Menjadi guru pendamping baris-berbaris. Hampir 2 minggu mempersiapkan semua kebutuhan dan mental siswa. Mereka pleton 1 putra yang rata-rata remaja dengan prinsipnya sendiri. Senang kabur saat latihan, padahal maunya menang. Kurang disiplin dan semena-mena. Alhamdulillah masih dapat juara harapan 3. Tiga hari berturut-turut jalan dari Alun-alun utara hingga Alun-alun selatan. Menjadi pendamping baris, baris para guru dan pendamping karnaval. Masa bodoh lah dengan muka yang semakin menghitam yang memeang dasarmya tak putih.

September, mulai sakit-sakitan. Batuk tak kunjung sembuh hingga sebulan lebih. Ibuku yang perhatian selalu memasakkan air hangat untukku mandi. Karena setiap pagi aku harus ke sekolah, bahkan lebih pagi dari guru biasanya karena pembina 7K.

Oktober, harusnya jadi bulan yang amat membahagiakan untukku. Nyatanya, aku terserang sakit maag. Mulailah aku tak bisa makan makanan kesukaanku, asam pedas. Baru tau rasanya sakit yang teramat sakit. Bulan ini juga, sibuk mengurus berkas tes CPNS. Disaat yang lain belajar untuk tes, aku malah pemulihan kesehatan. Ditambah pula kegiatan sekolah yang selalu padat. Malam kadang ku masih harus mempersiapkan untuk mengajar besoknya.

November, tiba saatnya tes SKD CPNS. Senang rasanya sebelum aku pergi, membayangkan akan bertemu dengan teman-teman kuliah dulu. Sesaat setelah tes selesai, hasilnya pun langsung keluar TWK 70, TIU 85, TKP 144. Harusnya aku lulus jika soal TWK kuulangi dan benar 1 soal lagi. Tapi aku harus berlapang dada. Hasil yang tanpa belajar, tak apa belum rejeki tahun ini. Aku selalu menenangkan hatiku, tak apa.. Tak apa.. Tapi sakit rasanya melihat yang lain bisa lanjut SKB, padahal dulunya saat kuliah atau sekolah jauh dibawahku. Maafkan daku yang iri ini.

Desember, aku bersyukur tugasku di dunia kerja bisa kuselesaikan dengan baik. Menyambut semester depan yang sangat padat, aku harus selalu sehat, selalu semangat dan lebih sering bersyukur. Libur 2 minggu, harus kumanfaatkan dengan baik. Minimal menyicil beberapa soal untuk kuajarkan di sekolah A.

Aku sudah siap menyongsong 2019. 

Minggu, 30 Desember 2018

Pembual

Sempat memiliki ketertarikan padamu sejak awal melihat di kampus. Tepatnya saat acara pengajian kampus, kau yang memakai kacamata dan aku yang melihatmu seperti Detektif Conan. Saat itu kau bersama temanmu yang tak kalah membuatku penasaran karena keunikannya. Temanmu, seorang pria berbaju putih dengan tas merah selempang. Jarang sekali ya sekarang pria memakai tas selempang. Dan dia adalah kenalan teman sejurusanku. Kau juga jadi kenal baik dengannya, bukan?

Beda jurusan. Tapi mungkin aku cukup terkenal diangkatanku, mahasiswa biasa yang teman-temannya luar biasa. Aku tak ikut BEM, tak ikut organisasi apa pun. Kuliah selesai ku langsung pulang. Orang-orang disekelilingku lah yang melakukan itu. Akhirnya aku juga dapat kenalan.

Entah aku lupa awalnya kita bisa sedekat ini. Tapi yang jelas, aku sering mengejekmu di depan temanku yang dulu kau dekati saat masih menjadi anggota BEM. Lalu kau jarang terlihat berkumpul bersama.

Rupanya kau mengembangkan sayap. Mungkin facebook lah yang menjadi jembatan penghubung pertama kali. Ketika aku mengganti foto profil, kau mulai menekan tanda suka. Sesekali kau berkomentar layaknya kita teman dekat. Lalu mulailah agak berani kau memulai cerita lewat chat. Beberapa akun media sosialku kau ikuti, dan kau kepo.

Aku sempat terbuai saat kau dengan penuh perhatian memberiku kabar setiap hari. Hingga aku sakit saat nyata bagiku kau membonceng wanita lain di depan mataku. Kau bilang dia sudah seperti adikmu. Oh, ya. Hatiku memang hancur saat itu, tapi aku tahu kartumu.

Lalu beberapa saatnya, kau dekati juga temanku yang lain. Bahkan kau rela mengantarkan mangga ke kosannya meski dia sedang menginap. Aku malu rasanya jika harus menceritakanmu kepada sahabatku semasa kuliah. "Sudah lah teh, dia juga mendekati Bunga. Tipe-tipe playboy."

Aku menjaga jarak. Aku mulai marah dengan mengabaikanmu. Membalas dengan singkat pesan-pesanmu atau hanya aku baca saja. Dunia juga tahu, tapi mungkin aku yang tak mau tahu tentang itu. Dia memang tak sebaik yang kukira.

Tiba saat aku yudisium, kau datang membawa setangkai bunga. Kau juga menjadikan fotoku berdua denganmu menjadi foto profil BBM saat itu. Aku terbuai (lagi). Besoknya kau datang lagi dengan membawa setangkai bunga yang lain untukku. Terima kasih, aku senang. Karena saat itu sebenarnya aku sedang menjalin hubungan dengan lelaki lain yang dia pun tak datang di hari besarku itu. Dia sedang di luar kota.

Aku sudah lulus, kau belum. Aku kembali ke kota kelahiranku, kau tetap disana. Aku tinggalkan semua kenangan, tapi kau ikut. Bersama semua kabarmu yang setiap pagi aku temui. Aku harus melupakan kekasihku yang dulu, kau datang sebagai yang baru.

Hingga aku tahu latar belakangmu, Orang Jawa tapi tinggal di Sumatera. Alasan kau menggunakan kacamata? Karena sering main game online. Kau bilang lumayan uangnya dari sana. Keluargamu yang sudah tak utuh lagi, semua kau ceritakan padaku kala itu. Lagi, aku terbuai.

Lama sudah aku tak menggunakan BBM, setahun berlalu kau terus mengintip instastory ku. Sering kau kirim DM. Saat itu kau minta no whatsapp ku. Aku beri.

Tak sengaja di depan orang lain yang beniat menjodohkanku dengan sesama rekan kerja, aku memperkenalkanmu sebagai kekasihku. Untukku menghindari perjodohan itu. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, kau yang menjadi alasanku.

Lalu kita kembali terbuai. Kau yang tak pernah mengaku punya pasangan, dan aku yang selalu percaya meski kemarin lusa aku melihat postingan seorang wanita di instagram mu. Aku terlena dengan kata-katamu. Kau begitu lincah mengombang-ambingkan perasaanku. Hampir setiap hari kau kirim pesan, bahkan lebih dari sebelum kau lulus dan menjadi mahasiswa S2 di Jogja. Kita menjadi dekat, semakin dekat. Aku berani bertanya "kapan kau akan melamar?". Kau bilang masih kuliah, masih banyak yang harus direncanakan. Aku tahu itu jawaban dari lelaki yang belum siap menikah dan belum serius denganku.

Baik. Aku masih menganggapmu orang baik. Entah mengapa, aku tiba-tiba tersadar. Aku mencium aroma perselingkuhan disini, dan apabila itu benar, akulah yang jadi orang ketiganya atau bahkan keempat, kelimanya. Aku tahu tabiatmu dari dulu namun aku terlalu sering kau buat terlena, hingga aku lupa aku ini siapa kau itu siapa. Aku ini dimana, kau pun dimana. Kita beda.

Maafkan aku, jikalau engkau jodohku. Sungguh sulit untukku mengubah kebiasaanmu. Yang sangat baik kepada semua wanita cantik dan manis. Terima kasih.

Jumat, 06 Juli 2018

La Tahzan

Sejatinya kita memang harus melupakan kesedihan di masa lalu. Aku sudah ikhlas atas kekecewaan yang terjadi minggu lalu, bulan lalu, atau bahkan tahun lalu yang terjadi padaku. Hanya saja aku sulit untuk melupakannya. Mendengar seseorang mengungkit kekecewaan itu, aku kembali berkecil hati. Ibarat pribahasa, nila setitik rusak susu sebelanga. Ini memang kelihatannya sepele bagi yang hanya ingin coba-coba, tapi bagaimana dengan orang yang benar-benar serius akan hal itu. Tidak dipungkiri, kecewa itu sangat amat mendalam. Merasa orang paling bodoh dan selalu bertanya-tanya apa yang salah pada diriku? Mata seolah enggan menangisi hal itu. Raga ini terlalu angkuh. Akan tetapi, rasa sakitnya itu sangat membekas di hati. Aku iri. Melihat seseorang yang kukenal bisa mencapainya, aku makin bertanya-tanya apa yang salah?
“Tidak, tidak ada yang salah pada diriku. Mungkin ada kesalahan pada orang sebelumku.”, gumamku dalam hati. Berhari-hari aku merasakan kekecewaan itu. Menjauh dari teman-teman. Puasa bicara di rumah. Melakukan sesuatu dengan terpaksa. Banyak termenung memikirkan hal yang tidak berguna. Selalu menyalahkan diri sendiri. Secara psikologis, aku sedang dalam keadaan tak baik. Jiwaku bisa dibilang terguncang. Tak dapat mengendalikan perasaan.
Oh, bodohnya. Mencoba ingin sendiri dengan menghilang tanpa kabar dari orang-orang membuatku sadar bahwa aku tak bisa sendiri. Manusia merupakan makhluk sosial. Menyadari hal itu, semuanya akan kembali baik-baik saja. Aku mencoba terbuka kembali pada orang lain. Meski aku tak bisa 100% percaya pada orang lain. Manusia itu memiliki sisi khilafnya, sebaik-baiknya orang adalah menyembunyikan aibnya dan aib saudaranya. Berkata yang semestinya saja. Sekarang mencoba tawakal atas apa yang terjadi. Kembali pepatah mengatakan, banyak jalan menuju Roma. Aku punya jalan sendiri untuk menggapai sesuatu yang menjadi milikku nantinya. Bukan dengan cara ini. Jika kekecewaan dirasakan sekarang, mungkin nanti bisa mengambil hikmah dari datangnya kekecewaan itu. Tak mengapa. Seseorang pernah mengatakan untuk selalu tersenyum dan membuat orang-orang di sekitarmu bahagia bila di dekatmu. Setidaknya kau bisa bermanfaat bagi orang lain dengan membuatnya senang. La tahzan J

Minggu, 04 Maret 2018

REINKARNASI

Semacam reinkarnasi saja. Rasanya baru kemarin aku lulus SMA. Masih terasa aroma putih abu-abu yang menyenangkan sekaligus menakutkan.

Aku memang bukan orang yang sukses dalam hal percintaan saat SMA. Pernah disukai Aldi yang nyatanya playboy. Suatu hari ketika latihan paduan suara, dia mulai mendekati aku sampai-sampai pulangnya mengikutiku jalan. Duh, malunya kalau diingat. Aku macam cacing kepanasan, salah tingkah dan terlihat bodoh. Semua berlalu karena dia sudah mendapatkan wanita lain, anak kelas sebelah.

Lalu mulailah aku cinta lokasi dengan teman sekelasku. Menjadi teman selama 3 tahun berturut-turut menimbulkan rasa kagum, lalu suka, bahkan ada benih-benih cinta. Pertama aku menyukai Fahri karena tampannya, baik hatinya, kepiawaiannya bermain alat musik  dan pandai bicaranya ketika diskusi kelas. Idaman lah pokoknya. Sadarnya bahwa dia terlalu "playboy" untukku. Memang benar pesona Fahri tak terkalahkan, dari mulai kelas atas hingga kelas bawah wanita-wanita mulai mengakui sebagai pacarnya. Aku mah apa atuh. Dan sekarang, aku masih suka dia tapi aku tau diri. Aku hanya mengganggapnya teman biasa.

Masih dengan teman sekelasku, aku mulai menyukai Ahmad. Karena rapinya, berwibawanya, caranya menanggapi masalah, baiknya, tidak setampan Fahri tapi lumayan. Tapi dia mudah dipengaruhi teman-teman geng nya. Aku tidak suka. Aku mah apa atuh (lagi). Aku sempat patah hati karena saat kelas XI dia mulai pacaran dengan adik kelas. Yakinlah itu pacar pertamanya. Lalu aku menganggapnya seperti biasa, mengurangi perasaan suka terhadapnya tapi masih ingin terus bersamanya meski hanya ngobrol biasa.

Sempat juga mengagumi kakak kelas. Kak Sakti, satu tingkat diatasku. Aku tak tau banyak selain namanya, kelasnya. Yang aku tahu dia putih, berkacamata, tinggi, tampan, bicaranya lembut, ngajinya bagus, anak rohis, anak PMR juga. Tapi ya sudahlah, semenjak dia lulus aku tak tau dia dimana selain informasi tentang dia kuliah di salah satu sekolah tinggi di kota ini.

Pernah juga menyukai brondong. Ketika aku kelas XI dan dia kelas X. Tepatnya setelah aku patah hati pada Ahmad. Aku masih ingat, itu hari sabtu. Seperti biasa, setiap pagi apel di lapangan sebelum masuk kelas. Aku merasakan seperti di film-film saja. Hanya melihatnya menuju padaku sementara yang lain berlalu tapi tak menghalangi pandanganku padanya. Dia, Ilham Yudha. Dia tinggi, hitam manis, senyumnya membuatku seketika jatuh cinta, rapi dan kharismanya luar biasa. Kebetulan juga sekelas dengan pacarnya Ahmad saat itu. Ilham dan Ahmad juga saling kenal karena pernah satu komplek dulunya. Dia juga termasuk playboy kelas teri, sering gonta-ganti pacar. Dia juga badboy, pernah merokok. Bahkan nama akun facebooknya dulu ilham cl*sm*ld (nama merk rokok). Sempat sedih karena difacebooknya waktu itu mengirim hal-hal tak senonoh. Aku tak percaya itu dia, shock. Di akun tersebut juga menjelekkan salah satu guru. Aku sampai-sampai sedih dia tertimpa masalah seperti itu, padahal bukan dia yang melakukannya. Karena sahabatku tau aku menyukainya, mereka rajin "ngepoin" kegiatannya. Sampai pada saat aku diberi nomor hp nya oleh salah satu temanku yang juga satu ekskul dengannya. Hampir sebulan nomor itu tak aku apa-apakan. Malu bukan jika perempuan memulainya. Sementara dia tak tertarik padaku. Lalu, pada bulan puasa sebelum maghrib. Aku dipaksa seolah salah kirim dengannya. Benar saja SMS ku itu langsung dibalasnya. Kami sempat terlibat lama, bicara banyak saat SMSan. Entah kapan saat kami sudah tak saling hubungi lagi. Dan aku ternyata dipertemukan lagi di Universitas, sering bertemu di perkumpulan daerah. Dan sekarang, aku benar-benar mengganggapnya sebagai adik tingkat meskipun kharismanya tak pernah pudar di hatiku.

Lalu.. Ini yang membuatku bahkan sakit ketika UJIAN NASIONAL. Matematika pula. Hanya karena melihatnya pulang bersama mantan kekasihnya kemarin. Dia Muhammad Arga Pradipta. Aku sudah mengenalnya sejak kelas 1 SMP. Satu kelas berturut-turut sejak SMP. Pernah dijodohkan oleh guru saat kelas 3, dan aku mulai suka. Sepertinya dia juga. Bertemu lagi di SMA. Memang tak sekelas, tapi sebelahan. Cinta monyet berlanjut di SMA. Suka gombal-gombalan atau mungkin aku yang terlalu baper dulunya (setelah baca arsip SMS). Dia memang playboy cap kapak. Pernah pacaran cuma sehari, nembaknya juga lewat SMS. Hmm.. Aku beberapa kali ditembaknya lewat SMS, tapi aku memilih untuk tidak memberi kepastian. Cintanya banyak sekali, aku sampai lupa. Dia pernah berjanji akan pulang bareng, tapi malah dia tak datang-datang setelah ujian sekolah PKN. Aku menunggunya tapi dia malah menitipkan bukuku kepada temanku. Dia juga pernah berjanji akan menyatakan cintanya secara langsung, tapi juga tak kunjung terlaksana. Aku memang suka kata-kata gombalnya. Dia tak begitu tampan, dia hitam manis, tinggi dan rapi. Aku juga tau dia orangnya baik, anak rumahan. Tapi sakit-sesakit sakitnya. Setelah UN hari pertama dia membonceng seorang wanita dan dia adalah Sonia, mantannya. Aku kepikiran sampai jatuh sakit. Bodohnya aku pernah menyukainya. Lalu aku menghindarinya. Setahun berlalu, setauku dia diterima di Universitas di Bengkulu. Tapi entah kenapa, Allah mempertemukanku dengannya di PK2 2013 dan dia sebagai adik tingkatku tapi beda prodi. Ada rasa senang, ada sedih dan kecewanya juga. Tapi sekarang jika bertemu dengannya, aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Aku sudah tak malu-malu lagi. Sama saat di kelas 1, 2 SMP.

Ingatan tentang Arga tak pernah hilang. Apalagi ketika aku mengajar di tempat les, ada yang sangat mirip dengannya, kepribadiannya dan tentu saja playboy nya juga. Namanya Dinar, teman sekelas adikku. Entahlah seperti reinkarnasi saja. 

Senin, 06 November 2017

Mantan yang Masih Cinta

Aku hanya ingin mengenangnya malam ini. Akan kusampaikan sebuah rindu pada argon di udara. Untukmu, yang terlalu sering menemaniku suka dan duka. Dari cerita paling indah hingga cerita paling nestapa. Ketika kita saling menunggu di ruang baca, depan prodi, mushollah, atau dekanat. Ah ini tempat favorit, dekanat! Tempat paling nyaman ketika mendapat tempat duduk dan dekat "colokan" pula. Tempat paling diburu mahasiswa yang minim paket data internet. Tak jarang pula menjadi tempat bertemunya empat mata yang mulai mengisyaratkan cinta.

Masih ingatkah engkau? Ketika tiba waktunya makan siang. Mau makan di kantin mana? Mau makan apa? Baiklah, kita banyak pilihan tempat dan makanan. Hmm.. Selera mungkin tak sama, tapi tak ada yang memungkiri nikmatnya batagor fisip, mie ayam bakso kantin reyhan, mie ayam bakso kantin ekonomi, pindang tulang kantin cindy, dan teh manis gratisnya kantin ibu tengah tiap jumat.

Lalu, kendaraan apakah yang paling sering kau gunakan menuju kampus? Angkot kuning primadona, mulai dari harga Rp. 1.000, naik menjadi Rp. 2.000 sampai Rp. 3.000 untuk area kampus. Kita mempunyai beberapa lokasi kampus yang jaraknya mencapai 32 KM. Angkot kuning tak bisa mencapainya. Transportasi favorit adalah TM alias TransMusi. Harga murah, nyaman pula. Khusus untuk mahasiswa yang kantongnya selalu bolong. Pilihan lain dengan menggunakan bus kuning, harga pasti lebih murah dari TM. Ya, ada tapinya. Untuk kenyamanan, transportasi ini kurang. Ada satu hal yang menjadi ciri khas saat akan menaiki bus kuning, yakni "kenek" bus tersebut menyebut semua penumpang dengan sebutan, "mer". Entah dari mana asalnya. Atau bisa menggunakan bus "kaleng" untuk umum. Disini rawan copet, tempatnya tak nyaman, namun paling diminati warga.

Di akhir masa-masa perjuangan, masih ingatkah tempat favorit kita? Ruang baca >> Perpustakaan pusat >> Ruang jurnal dan skripsi >> "ngeper" di depan ruang prodi sambil cerita ini itu ahh rindunya. Tak jarang dimarahi dosen prodi lain karena banyaknya mahasiswa yang duduk menghalangi jalan. Tempatnya menggalau ria karena di PHP dosen. Tempatnya dapat ilmu baru dari kakak tingkat maupun dari teman yang sudah lebih dulu mengerjakan skripsi. Tempatnya berbahagia setelah mendapat tulisan ACC di draft skripsi. Tempatnya internetan gratis, itu yang membuat selalu betah disana.

Kampusku, sekarang sudah beda. Semua serba baru tapi aku belum bisa mengunjunginya lagi. Entah suatu saat, ketika waktuku ada di sana, penghuninya sudah tak ada yang mengenalku. Bagai orang asing di tempat lama. Tanpa kalian yang selalu menemani, sungguh kampus tercinta terasa hampa.
Aku hanyalah alumnus, kini. Namun cinta pada almamater, tak akan pernah luntur. Seperti mantan tapi masih cinta. 

Jumat, 07 Juli 2017

Menjemput Sarjana Pendidikan

Mahasiswa tingkat akhir atau Mahasisa. Sebuah julukan yang masih akrab ditelinga ketika mahasiswa lainnya sudah lulus tetapi diri ini belum. Ya, saat ini aku sudah memasuki semester 9. Aku yang menjadi mahasiswa karena beasiswa harus membayar SPP karena sudah lewat 8 semester. Bukan karena malas kuliah, hanya saja aku kurang beruntung saat pembagian Dosen Pembimbing Skripsi. Dosen pembimbingku salah satunya adalah pembimbing akademikku. Beliau baik, namun terkenal suka mempersulit mahasiswanya.

Banyak kesulitan terjadi selama masa kuliah. Akan tetapi masa-masa tersulit dimulai saat semester 7. Aku belum berani bimbingan karena tahu dosenku sungguh sulit. Pertama kali aku menemui beliau, aku sudah tak sejalan dengannya. Oleh sebab itulah aku memutuskan untuk tidak menemui beliau untuk sementara waktu. Agustus-September 2015, aku asyik dengan kegiatan P4 (dulunya PPL) di sekolah. Bahagia rasanya menjadi guru. Sampai-sampai aku lupa kalau setelah itu aku harus berjuang dengan tugas akhir. Sempat berpikir, “Pengen langsung jadi guru aja, gak usah skripsian”. Oh tapi aku sadar, tanpa menyelesaikan tugas akhir bernama SKRIPSI, aku tak bisa begitu saja menjadi guru yang bergelar Sarjana Pendidikan. Kuliahku selama ini sia-sia jika aku berhenti. Selangkah lagi.

Perjuangan ‘selangkah lagi’ yang kukatakan sebelumnya ternyata mengalami proses yang amat sangat panjang. Setelah selesai melaksanakan P4 di sekolah. Aku mulai bersemangat menemui dosen pembimbingku. Mungkin beliau lupa tentang masalah beberapa bulan lalu. Ah, lagi. Aku sial! Ketika bimbingan dengan dosen pembimbing 1, tiba-tiba dosen pembimbing 2 juga datang ikut nimbrung. Benar saja keduanya memintaku untuk penelitian murni. Aku yang tak berdaya ini mau tak mau harus mengikuti mereka kalau mau lulus. Risikonya aku sudah tahu, penelitianku akan susah, mahal dan lama. Tapi kedua dosenku berdalih kalau penelitian murni bisa cepat lulus. Bodohnya aku tanpa pikir panjang aku percaya saja.

Aku yang memang dasarnya adalah anak penurut ini tak mampu menolak permintaan kedua dosen pembimbingku. Baiklah, aku coba dulu. Bimbingan pertama, kedua masih lancar.  Lalu yang ketiga agak kacau, bimbingan keempat kalinya masih ada yang harus diperbaiki tapi langsung di ACC untuk maju seminar proposal di awal Desember, tepatnya tanggal 8 Desember 2015. Seminar terakhir di semester itu. Agak suram karena proposalku habis dibantai penguji bahkan oleh pembimbingku sendiri. Bongkar lagi. Buat baru lagi. Cari ide lain lagi. Pikirkan lagi. Sementara di depan mata libur semester telah menanti, dosen pun tak bisa ditemui.

Awalnya penelitianku berjudul, “Identifikasi Komposisi Kimia dan Pembuatan Arang Putih (Binchotan) dari Cangkang Buah Karet”. Rumit ya kan? Makanya aku habis dibantai pada saat seminar proposal. Untungnya meskipun seminar proposal kacau dan dibantai, aku tidak disuruh mengulang seminar oleh para dosen tersebut.

Masuk semester 8, penelitianku terombang ambing. Tetap penelitian awal atau mengubah penelitian tersebut menjadi briket? Semua dosen penguji menyaraknan itu, juga PS 2 (Pemimbing Skripsi 2) yang saat itu mendampingi seminar. Nah, ini masalahnya? PS 1 tak melihat aku dibantai di seminar karena beliau sibuk menguji mahasiswa lainnya di ruang berbeda. Jadilah beliau yang tak tahu apa-apa tapi tetap kekeuh pada penelitian awal. Butuh waktu sebulan untuk bisa meyakinkan hati dosen PS 1 ku. Alhamdulillah, beliau dilembutkan hatinya. Dan pada akhirnya judul penelitianku menjadi, “Pembuatan Briket dari Cangkang Buah Karet (Hevea brasilliensis)”.

***Selamat datang di masa penelitian yang panjang***

Setelah ACC revisi proposal penelitian, aku sudah diperbolehkan untuk penelitian. Senangnya. Perjuangan dimulai ketika mengurus berkas untuk pengambilan sampel cangkang buah karet. “Mau ambil cangkang buah karet aja ribet amat ya? Pake surat-surat segala. Lama lagi nunggu suratnya”, gumamku. Aku tak sendirian, ada 2 temanku yang bernasib sama denganku. Kami harus bersahabat dengan cangkang buah karet.

Setelah surat-menyurat beres, kami langsung menuju Balai Pembibitan Karet Sembawa. Lumayan jauh dari tempat tinggalku. Indralaya-Sembawa, sekitar 2 jam lebih. Tapi rumah kedua temanku itu di Palembang, jadi waktu yang dibutuhkan tak sampai 1 jam kesana. Dari pagi sampai sore mungut cangkang buah karet, sampai bentol-bentol seluruh badan karena digigit nyamuk kebon. Si cangkang buah karet yang kami ambil tak bisa langsung dipakai, harus dibersihkan dari tanah dan harus dikeringkan pula. Coba bayangkan harus membersihkan satu per satu cangkang buah karet sebanyak 3 karung! Wow, dari pagi sampai malam. Setiap hari membersihkan cangkang. Sampai-sampai tangan luka karena kena kulit cangkang yang tajam. Semua itu pengorbanan.

Pertengahan Februari 2016 aku sudah mulai masuk lab. Pemasukan yang mahal dan per hari juga mahal karena itu bukan lab di kampusku. Oke, aku harus cepat! Tak sampai 2 minggu penelitianku selesai. Tapi menunggu uji nilai kalor di lab yang berbeda harus menunggu waktu 2 minggu. Setelah uji lab keluar, aku bimbingan dan hasilnya aku harus mengulang penelitianku dari awal. Sedihnyaaaa. Itu berarti aku harus mengeluarkan dana dan waktu lagi.

Sementara persediaan cangkang kami sudah habis. Kami (bertiga) sudah tak sejalan lagi, artinya sudah sibuk penelitian masing-masing. Aku harus mengambil cangkang buah karet sendiri. Kakakku bekerja tak jauh dari sana, akhirnya aku minta ditemani olehnya. Masalah cangkang beres, pikirku. Ketika aku akan penelitian lagi, pihak lab bilang sudah ada mahasiswa lain yang penelitian disana. Dan itu artinya, aku harus mencari lab lain yang ada furnace-nya. Karena penelitianku sangat bergantung pada furnace. Aku hampir patah semangat karena aku harus mengeluarkan dana lebih lagi dan pastinya harus mengurus surat-menyurat lagi yang rumit lagi lama. Padahal aku ingin cepat selesai penelitian. Target wisuda bulan April, lewat. Baiklah aku sudah mendapatkan lab yang bisa aku pakai penelitian, tapi suratku belum jadi makanya harus menunggu dulu. 2 minggu kemudian suratku jadi, tapi malah alatnya yang rusak. Baru kemarin pula rusaknya. Oh Tuhaaaaan!! Ya, aku ingat. Ada Lab Dasar Bersama, tempatku praktikum dulu. Disana ada alat baru di lab Kimia Fisika. Alhamdulillah analisnya masih kenal dan baik hati memperbolehkan penelitian meskipun belum ada surat dari dekanat. Sebulan sudah aku penelitian disana, Mei baru selesai. Target wisuda bulan Juni lewat pula.

Target wisuda Agustus juga nampaknya tak bisa. Aku belum bimbingan lagi, belum seminar hasil, belum juga sidang skripsi. Perjalanan masih panjang. Setelah selesai penelitian, aku tak bisa bimbingan karena dosen sudah mulai liburan. Baiklah kita liburan juga. Tinggal mudik dulu saja. Setidaknya penelitianku sudah selesai tinggal mengolah data dan mulai membuat pembahasan.

***Penelitian yang panjang akhirnya selesai***

Memasuki babak baru, yuhuuu semester 9 yang kurindukan. Berharap bisa lulus di semester ini. Sudah bosan ditanya “kapan wisuda? Kok belum lulus?”. Akhirnya 6 September 2017, aku bisa seminar hasil. Kali ini dosen PS 1 yang menemani seminar. Beliau tiba di kampus tepat beberapa menit sebelum giliranku maju. Alhamdulillah semua lancar, beliau juga membelaku dan menasihatiku layaknya seorang ayah dan anaknya. Aku terharu, beliau ternyata begitu perhatian dengan mahasiswa bimbingannya. Meskipun agak keras tapi beliau hatinya lembut. Pernah saat penelitian (yang diulang) aku tak bimbingan selama 3 minggu karena belum dapat data. Beliau tahu betul aku tak bimbingan sudah 3 minggu, perhatian kan? Revisi seminar hasil juga tak banyak, jadi bisa daftar sidang bulan Oktober.

Oktober semangat! Betapa bahagianya aku menyambut Bulan Oktober. Ini bulan lahirku dan juga momen pentingku untuk menjemput gelar Sarjana Pendidikan. Saking semangatnya aku, rela bolak-balik Palembang-Indralaya supaya cepat di ACC sidang. Minta tanda tangan ini, minta tanda tangan itu. Urus berkas ini, urus berkas itu. Banyak prosesnya. Bulan ini sangat banyak mahasiswa yang akan sidang. Sidang yang biasanya hanya satu hari dalam sebulan, kali ini dibuat 2 hari. Sempat dengar berita simpang siur sana sini yang membuat gugup bertambah.

Tragedi sebelum sidang terjadi. 10 Oktober adalah hari ulang tahunku, namun pada tanggal 23 Oktober (H-3 sidang) sahabatku sejak bangku SMA memberikan sebuah kejutan ulang tahun kepadaku. Nah pada saat itulah HP ku rusak, entah karena apa penyebabnya. Aku belum sempat ke Palembang lagi untuk memperbaikinya, masih ada HP kecil yang bisa dipakai untuk SMS dan telpon. Selasa pagi (H-1 sidang), aku dapat kabar bahwa seluruh mahasiswa yang akan sidang harus hadir di Kampus Ogan Palembang. Palembang-Indralaya itu butuh 1 jam lebih, belum lagi pagi itu hujan deras. Rumahku jauh dari halte TransMusi. Pergi dengan kehujanan, sembari membawa tas berisi baju untuk menginap dan perlengkapan sidang. Sampai di kampus, ZONK! Aku yang sudah kucel, kelaparan dan basah kuyup ternyata kedatanganku sia-sia. Aku tetap sidang besok (Rabu, 26 Oktober 2016). Baiklah, aku akan tetap bersabar.

Malamnya, aku menginap di salah satu rumah teman se-PA-ku di dekat Kampus Ogan. Bukannya belajar untuk sidang, kami bertiga malah membuat sebuah pesta kecil karena aku ulang tahun di tanggal 10 dan temanku yang satunya ulang tahun di hari itu. Sedikit ketakutan tapi tak enak kalau aku tinggal mereka belajar di kamar. Dan aku tertidur nyenyak tanpa dosa setelahnya. Bangun pagi! Oh Tuhan, hari ini aku sidang tapi semalam tak belajar! Ada rasa menyesal, tapi ya mau bagaimana lagi semua sudah lewat.

Aku dapat jadwal maju sidang jam 10. Semua sudah siap. Aku semakin tegang. Dosen PS 2 sudah hadir, satu dosen penguji ke luar negeri, satu sudah hadir dan tinggal menunggu satu penguji lagi. Aku agak cemas karena jam 09.45 dosen pengujiku belum datang. Jika beliau tak datang, sidangku akan diundur. Beliau juga ada jadwal mengajar hari itu di Indralaya. Tapi tak berapa lama sebelum aku maju, beliau datang. Alhamdulillah. Sidang lancar. Dan aku lulus ujian akhir.

Dan lagi, revisiku tak banyak jadi bisa daftar wisuda Desember. Akhirnya, bisa wisuda di semester 9 dengan predikat “CUMLAUDE / DENGAN PUJIAN”. Tepatnya, yudisium tanggal 7 Desember 2016 dan wisuda tanggal 8 Desember 2016. Mulai dari seminar proposal sampai wisuda, tepat satu tahun (8 Desember 2015-8 Desember 2016).


Dari pengalamanku yang sangat amat panjang ini, percayalah bahwa semua ada masanya. Termasuk masa-masa mengerjakan skripsi yang melelahkan tapi juga akan dirindukan. Lulus pasti ada waktunya, di waktu yang tepat bagi kita. Aku yang termasuk agak telat lulusnya (4 tahun 2 bulan masa studi), menyadari bahwa aku bisa semakin dekat dengan kedua dosen pembimbing skripsi dan dosen pengujiku. Aku juga bisa mengenal dan lebih akrab dengan teman-temanku yang kurang akrab sebelumnya. Menjalin relasi lebih luas lagi karena pindah-pindah lab. Akrab dengan admin prodi karena suratku tak kunjung selesai. Dan pastinya, aku mengukir kenangan manis di FKIP UNSRI. Terima kasih, aku sudah dapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Aku sekarang, Ina Ayu Nengtyas, S.Pd. 

 *** Galeri Foto ***

Foto bersama Dra. Bety Lesmini, M.Sc. Dosen Pembimbing 2 setelah sidang

Foto setelah sidang
Foto yudisium bersama sahabat (minus 1 karena sudah lulus duluan)


Foto bersama Mama, Baba dan Makwo sebelum masuk Auditorium


Foto setelah wisuda


Minggu, 08 Januari 2017

Welcome to the Jungle

Hidup yang sebenarnya baru terasa ketika tamat kuliah dan memasuki dunia kerja. Aku yang lulusan keguruan ini juga susah mendapatkan kerja. Walaupun jurusanku termasuk jarang dan sulit. Ya beginilah, kehidupan pasca wisuda memang keras. Dunia terasa begitu kejam. Meskipun baru sebulan aku mendapatkan gelarku.
Aku memang tak betahan orangnya. Dulu waktu SD ingin cepat SMP. Ketika SMP ingin cepat SMA. Saat SMA ingin cepat kuliah dan meninggalkan kampung halaman. Waktu kuliah ingin cepat lulus dan pulang ke kampung halaman. Realitanya kini, aku sudah disini. Kampung halamanku, tempat kelahiranku. Aku seolah tak berharga. Atau mungkin belum berharga.
Ada rasa ingin kembali merantau. Tapi biaya sudah habis. Berwisausaha aku juga tak begitu mahir.
Yaa gitulah, welcome to the jungle memang tepat untuk kehidupan pasca wisuda hihi

Minggu, 01 Januari 2017

2017: SEMANGAT BARU


Sepertinya 2016 menjadi tahun sibuk buatku. Ya, itu semua karena tugas akhir alias SKRIPSI. Januari menjadi pembuka 2016 dengan kegalauan. Pasalnya, seminar proposal penelitianku pada 8 Desember 2015 lalu menyisakan kebingungan karena rombak ulang penelitian dan aku harus meyakinkan penguji dan pembimbingku lagi. Februari adalah awal penelitianku dimulai. Dua minggu terasa mudah saja, lancar jaya. Tapi saat pengujian, ternyata ada yang salah dan aku harus mengulangnya setelah dua minggu vakum dari lab. Jatahku untuk di lab sudah diambil oleh orang lain sementara aku harus memulai penelitianku lagi. Penelitian yang harusnya 2 minggu selesai, malah luntang lantung karena laboratorium. Aku lalu mengurus surat lagi ke lab yang lain supaya penelitianku cepat selesai tapi setelah surat jadi, alat yang ingin kugunakan tiba-tiba rusak. Betapa nyesek-nya aku kala itu. Tapi aku tidak putus asa, aku mencari lab yang lain dan mulai mengurus surat lagi yang butuh waktu tak sedikit. Akhirnya Mei 2016 penelitianku selesai. Alhamdulillah. Waktu bimbingan makalah hasil juga tak banyak, aku harus gesit karena akan segera libur panjang. Juni, Juli, Agustus. Ya, baru kali ini liburan jadi tak diharapkan karena tak bisa bimbingan. 6 September 2016, aku seminar hasil. Hampir saja aku tak bisa seminar kalau dosen pembimbingku tak hadir. Syukurlah, beliau datang tepat waktu. Beberapa menit sebelum aku akan maju dan seminar lancar jaya. Lalu pada 26 Oktober 2016, aku sukses melaksanakan ujian akhir program atau sidang skripsi. Revisi yang harus dikebut karena pendaftaran wisuda terakhir pada 11 November 2016. Alhamdulillah 8 Desember 2016 aku berhasil wisuda dan meraih predikat “DENGAN PUJIAN”. Betapa impian selama ini menjadi kenyataan. Wisuda dengan predikat cumlaude adalah pencapaian terbesarku di tahun 2016.



Dan di tahun 2017 ini, aku berharap lebih baik lagi. Aku ingin mengajar dan membantu ekonomi keluarga. Terlepas dari itu, aku masih ingin berburu beasiswa S2. Ya, beasiswa afirmasi LPDP memang sangatlah menggiurkan. Tapi aku harus belajar lagi lagi dan lagi. Syarat TOEFL itu tak bisa dianggap hal sepele apalagi aku yang sudah lama tak belajar bahasa inggris. Selain itu, aku juga masih berkeinginan untuk ikut PPG SM3T. Tahun ini aku akan mencobanya. Semoga berhasil :) 

Rabu, 23 November 2016

Seumur Hidup, Ahh.. Seumur Jagung

Berhubungan dengan sesama manusia itu memang merepotkan. Kita yang bertemu dari sebuah instansi yang sama, nyatanya tak sebegitu dekat. Tapi kau mulai mendekatiku dengan cara berorasi mengutarakan visi misi hidupmu bersamaku. Aku bisa apa? Sebagai seorang wanita kesepian, sungguh itu hal yang sangat menghibur hati. Beberapa kali, mengabaikan perkatanmu itu jurusku. Tibalah suatu ketika, benar saja kau bilang mau berkomitmen denganku. Aku tak begitu yakin dengan pilihanku, dan aku memilih untuk tetap menjaga ucapanku.
Lalu, kau yakinkan lagi hati ini melalui orasimu. Aku hanya bisa mengajukan 13 pertanyaan. Kau berhasil menyelesaikan 12 nya, meski jawaban itu tak membuatku terkesan sedikitpun. Terlalu biasa, tidak spesifik. Tapi aku menghargai usahamu. Aku sungguh tak bisa menolak, langsung kujawab "iya".
Sebulan berlalu, masih manis rasanya. Bulan kedua pun demikian. Bulan ketiga, kau mulai sering menghilang. Aku sudah memperingatkanmu. Lalu bulan keempat kita berjarak sangat jauh. Komunikasi tak intens lagi. Meski aku tahu, kau sedang aktif di internet bahkan rela membuat status untuk wanita lain dengan emotikon yang tak biasa. Aku tetap diam.
Satu, dua bulan berikutnya kita semakin jauh walau ada di kota yang sama. Ketika bertemu, aku tak sanggup melihat wajahmu. Sungguh. Bukannya marah, entah perasaan apa yang ada dalam hatiku ketika bertemu denganmu yang membuat aku pergi berlalu meninggalkanmu. Kau juga! Tak berinisiatif menyapaku, sekedar bertanya "mau kemana?" . Apalagi mengejarku. Lelaki macam apa itu? Sebentar, hubungan macam apa ini?
Tadi pagi, kabar mengejutkan dari salah satu sahabatku yang melihatmu sedang makan berdua dengan seorang wanita. Aku tak ingin berburuk sangka. Dan benar saja, status yang dibuatnya beberapa kali sudah kutemukan buktinya. Dia bermain nakal dibelakangku. Tak kusangka. Ternyata dirimu bisa menyakitkan hati. Aku mungkin tak terlalu mencintaimu, ya sebenarnya hanya ada rasa iba. Tapi caramu memperlakukan seorang wanita sungguhlah kejam. Tak apa. Terima kasih, kau membuatku semakin kuat.
Seumur jagung. Ya, hubungan yang singkat ini hanya seumur tanaman jagung. Masih teringat katamu yang ingin seumur hidup denganku. Aku sudah tak tahan dengan ini. Tapi untuk melepaskannya sangat sulit untuk memulainya. 

Sabtu, 07 November 2015

Amazing 21st!

Oktober sudah berlalu. Namun masih terasa tak mungkin, usiaku kini sudah melewati angka 21. Rasanya baru kemarin aku merayakan ulang tahun yang ke-17 di sekolah. Hari itu -10 Oktober 2015- aku merayakan 21 tahunku di sekolah juga, tempat P4 (Re: dulu PPL) di SMA Negeri 1 Indralaya Utara. Entahlah, mereka sungguh manis. XI IPA 1, terima kasih. Sebuah cupcake dengan dua buah lilin di atasnya cukup membuatku kaget kala itu. Ditambah lagi dengan lagu "Selamat ulang tahun" dari Jamrud yang diiringi dua buah alunan gitar dari Irza dan Bangki membuatku sungguh speechless. Aaah, tentu saja ini kongkalikong Nia alias Nyak (teman P4-ku) dan Ossy (Siswa XI IPA 1). Mereka sepertinya sudah lama merencanakan ini hihi. 

Meskipun kala itu, aku tak lagi mengajar di sekolah itu karena masa P4 sudah selesai. Hari itu, aku, Nyak, Deden, Surya, Efri, dan Dwi mengantar laporan P4 ke sekolah. Mungkin itu terakhir kalinya aku ke sekolah. Yaa sampai detik ini sejak 10 Oktober itu, aku tak pernah ke sekolah lagi. Kadang sangat merindu tingkah lucu mereka, manjanya, jahilnya, nakalnya dan semua sikap khas anak SMA. Tapi, apa boleh buat aku sibuk dengan kegiatan "semester atasku" saat ini dan mereka hidup seperti biasa seperti sebelumnya. Setidaknya, beberapa dari mereka membuatkan sebuah karya kecil mereka untukku.

Saat pagi hari, aku dikejutkan dengan kiriman foto-foto ini dari Ossy :)





Terima kasih, anak-anak manis kesayangan ibu ({}) Lalu siangnya, inilah sedikit kejutan dari mereka.





Manisnyaaaaa.. ucapan dan doa-doa baik dari mana-mana mengalir untukku dihari itu. Terima kasih untuk kalian yang tak bisa kusebutkan satu per satu. Ku-aamiin-kan semua doa terbaik kalian untukku, semoga juga berbalik padamu. Aamiin..

Ini video dari kembaranku di SMAN ULTRA, namanya Ryqina. Ya, banyak yang bilang aku mirip dengan siswaku yang satu ini. Meskipun sepertinya dia lebih cantik dan lebih tinggi daripada aku hihi



Ini hadiah dari Jogja, dari Mas Aziz pacarnya sahabat kesayanganku Mbak Tut. Padahal udah lama pengen banget dibuatin kayak gini, eh tapi dikasihnya pas aku ulang tahun. Makasih Mas Aziz dan Mbak Tut. Semoga kalian langgeng yah hehe

Senangnyaaaa. Tak hanya itu, aku dibuatkan sebuah tulisan dari game COC oleh salah satu siswaku yang pendiam di XI IPA 2, Imam namanya.

Lagi, aku berhasil mendekati siswa yang pendiam. Ini buatan Indah, XII IPA 1. Indah pernah membuatkanku doodle berisi namaku. Pada saat itu, pertama kali masuk di kelasnya aku melihat Indah sedang sibuk membuat doodle. Iseng-iseng aku minta buatkan juga. Aku hampir saja lupa, dia langsung memasang DP di BBM dengan doodle buatannya itu. Terharu~

Keesokan harinya, hari itu adalah hari minggu. Sudah kuduga, sepupu-sepupuku pasti merencanakan sesuatu. Ya, aku disini tinggal dengan Wak Dimi sekeluarga (keluarga besarku). Maklum, aku kuliah jauh dari orang tua. Seperti biasa, gerak-gerik mereka sudah kuketahui tapi aku pura-pura tidak tahu saja. Apalagi Wak Lena sudah heboh hehe. Taddaaaa!! Mereka datang dengan terompet, topi ulang tahun, kue double dan hadiah :D Terima kasih sepupu-sepupu tersayang, Yuk Dina, Widya, Nurul, Randa dan Randi. Kalian sanggup membuat ulang tahun dan keberadaanku berharga disini.





Lalu, 22 Oktober 2015. Late surprise party dari sahabat terbaikku di bangku kuliah ini. Wo Tamalia, Ayuk DAP, Dedek Arum, Mbak Bintus, dan Mbak Wik dibantu oleh adik kesayangan Wita dan S (Suharsih). Inyek Cantiks, i love you full full lah yaaaah hihi Padahal kejutan ini untuk aku dan Mbak Wik, tapi sayang Mbak Wik tak dapat hadir. Jadi seolah ini kejutan untukku seorang hehe




Dan ini... mungkin kejutan terakhir di 21 tahunku pada 28 Oktober 2015. Ini surprise party ter-antimainstream :v Kejutan ini dari gengs P4-ku tersayang, Fara, Nyak, Deden, dan Seju. Sayang, Seju tak dapat hadir karena kakaknya persiapan nikahan. Tak mengapa, aku mengerti. Inilah kelakuan mereka, kue ultah diganti pancake telur, lilin kue diganti lilin biasa, nulis umur kemudaan setahun, dan tempatnya di atas balkon lantai 3 Amanah 😸😹  Memang sih, sudah sejak lama aku ingin ke atas balkon itu hehe Terima kasih gengss muach muach..









Terima kasih, untuk semuanya. 21 tahun yang sangat berkesan. Meskipun masih ada yang belum bisa aku masukkan disini, seperti doodle dari lili (siswa kelas XI IPA 2), kiriman foto Tamalia, beberapa foto DP editan yang belum sempat ku-download kala itu, beberapa voice note dari Tamalia, Mbak Indah, dll. dan semua orang yang mengucapkan dan mendoakanku. Terima kasih ðŸ˜˜


Terima kasih juga, Mama, Baba, Kakak, Raymond dan Icha. Doa dan support kalian selalu jadi penyemangatku setiap hari. Walaupun setiap ulang tahunku, aku selalu jauh dari kalian tapi doa kalian selalu mengiringi setiap hari. 

Terima kasih, Tuhanku Maha Besar, Allahu Ta'ala. Berkatnya lah, aku masih bisa menghirup udara hingga saat ini. Tak henti aku bersyukur atas rahmat-Mu ya Allah. Semoga Engkau jadikan hidupku bermanfaat bagi orang-orang disekelilingku, Engkau jadikan aku hamba yang sabar dan selalu berada di jalan-Mu. Berkahilah setiap umur hamba ya Alllah. Aamiin allahuma aamiin...

Selasa, 08 September 2015

Selamat Malam

Katakanlah malam pada pagi,
Bahwa aku merindunya.
Merindu aroma embun yang menyelimuti fajar
Menanti mentari yang kian beranjak naik

Katakan, katakan pagi. Kini aku merindu siang.
Kala terik berada tepat di atas ubun-ubun.
Lalu beranjak meredup sinarnya.

Katakan siang bahwa aku, aku merindu petang yang mendamaikan.
Di ufuk barat samar-samar cahaya makin menghilang.
Dan kini, petang..
Aku mulai merindu malam, malamku yang tenang.
Malamku yang selalu bertaburan bulan bintang.

Selamat malam

Minggu, 17 Mei 2015

Aktivis Sejati

Apa kabar? Engkau yang tak berkabar. Semoga engkau tetap beriman seperti katamu biasanya. Dirimu sibuk dengan duniamu. Suatu kebanggaan bisa mengenalmu. Aku yang hanya seorang anak akademis, katamu. Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu ada padamu. Lelah? Aku tahu. Hari ini mungkin sangat penting bagimu. Mestilah tidurmu tak nyenyak semalam. Resah. Menantikan esok yang sangat berarti demi kemaslahatan orang lain.

Bagai bumi langit. Kita berbeda untuk hal satu ini. Kuliah, utama buatku. Organisasi hampir aku tak punya kecuali himpunan prodi dan kedaerahan. Itupun bisa dibilang sudah tak begitu aktif lagi. Engkau yang makin menggebu, makin jarang kulihat. Lalu hari ini, sebuah gebrakan besar telah dibuat mahasiswa di Universitas tempatku sekarang ini. Aku salah satu mahasiswa yang apatis. Saat beribu mahasiswa ikut turun ke jalan menyuarakan perbaikan jalan, kami sibuk ujian tengah semester.

Ada rasa menyesal tak ikut. Bukan untuk "gaya-gayaan" ikut aksi tapi benar ingin dari hati. Ah tapi, sudah lewat. Gedung DPRD mendadak menguning oleh lautan mahasiswa. Lalu di semua media sosial sibuk membicarakan aksi ini. Masya Allah, satu lagi yang membuat haru. Saat melihat berita, mahasiswa melakukan shalat dzuhur berjamaah di depan Gedung DPRD. Tanpa air untuk wudhu, mereka tayamum. Dan engkau salah satu diantara beribu mahasiswa lainnya. Sebuah kepuasan dalam dirimu melihat gebrakan begitu hebat telah tercipta hari ini dan kau bagian darinya.

Membayangkanmu di tengah aksi, pastilah dilakukan secara total. Sebuah foto yang kulihat di sebuah media sosial, membuktikan spekulasiku. Engkau dengan heroiknya menyuarakan aksi. Sampai-sampai pujian "luar biasa" dari sang pengunggah mengiringi caption di fotomu itu. Engkau memang aktivis sejati. Hatimu resah tiap kali ada yang salah di negeri ini. Relasimu berkembang hingga ke pelosok Indonesia. Luar biasa. 



Sumber gambar: BEM_KMUnsri
Aksi #SaveJalanPLGLayo, 25 Maret 2015