Translate

Kamis, 05 Maret 2015

Aku temanmu!

Kita bertemu karena memang sudah jalannya untuk bertemu. Seperti pepatah, ada pertemuan ada perpisahan. Kutemukan banyak kesamaan. Didekatmu ku nyaman. Dari segi selera kita hampir sama. Dirimu yg terbuka dan ceria meski agak sedikit jutek, membuatku merasa senang menjadi temanmu. Lalu bagai sepenggal lirik lagu, mengapa ada pertemuan jika akhirnya harus berpisah. Kau memang masih di depanku. Kita masih saling bertemu. Namun entahlah, jarak kita begitu jauh. Bahkan untuk menjangkau tanganmu sulit rasanya. Meskipun kita selalu mencoba memperpendek jarak itu. Melihatmu, aku sedih. Betapa menyedihkannya nasib pertemanan ini.

"Jangan kangen", katamu. Bagaimana aku bisa tak kangen? Lalu aku seolah tak peduli, karena sakit bila harus melihatmu. Namun tahukah engkau teman? aku masih temanmu. Apalagi nyatanya kini, engkau memilih teman lain untuk jadi teman dekatmu. Entah apa ini rasanya, aku cemburu. Mungkin lebih dari rasa sakit seorang mantan kekasih yang masih cinta melihatnya pergi dengan kekasih baru. Sakiiiit, sakiiit, sakitnya tuh disini! *ehh* Maafkanlah aku yang pencemburu ini.

Sungguh dada serasa sesak, melihat semua hal yang kau lakukan. Aku tak berhenti mengamatimu. Tapi aku bahagia, nampaknya kau bahagia dengan teman-teman barumu. Mungkin kau merasa lebih dipedulikan. Mungkin kau merasa lebih klop dengan mereka. Tak apa, aku ikut senang. Setidaknya, aku temanmu dulu. Meski saat ini pun, aku masih temanmu. Teman yang "jaraknya" jauh. Tiba saat kita benar-benar harus berpisah, mungkin aku masih tak mampu katakan. Aku kangen!

Kamis, 26 Februari 2015

Serba-serbi Wisuda

Satu hal yang kusuka dari musim wisuda selain banyak bunga cantik yang dijual hanya di musim wisuda seperti sekarang ini, yaitu atmosfer kebahagiaan dimana-mana. Yang paling berbahagia, ya yang sedang wisuda. Seolah jadi tokoh utama. Keluarga datang, teman datang, sahabat datang, adik-adik tingkat datang memberi dukungan dan selamat. Jadi orang paling cantik, paling ganteng. Kebaya-kebaya indah membalut tubuhnya. Jas, dasi, dan sepatu kulit nampak mempergagah yang memakainya. Seolah lega, karena sudah menunaikan amanah orang tua. Susahnya bukan main, untuk mendapat toga dan medali biru. Akhirnyaaaa... Aah, aku suka suasana ini.

Lalu, di sudut pandang lain.. Aku dan semua yang masih berjuang ini, berharap di sana. "Semoga cepet nyusul". Nyusul wisuda pastinya. Berapa kali aku menghadiri wisuda, baru tadi merasa sedih. Sadar bahwa kakak tingkat yang dulunya sering main harus menempuh hidup barunya dengan gelar S.Pd. Tak bisa kutemui mereka di kampus lagi. Bahagia pastinya, karena kali ini prodi kami banyak yang diwisuda. Tak seperti biasanya. Kakak-kakak yang sering kami "olok-oloki", mbak-mbak yang sering memotivasi. Aku akan merindukan kalian. Rasanya baru kemarin kita bertemu, hari ini kalian sudah diwisuda.

Kak Susi, kakak tingkat yang pembimbing akademiknya sama denganku. Selamat kak, akhirnya bisa menakhlukkan bapak kita itu. Yang akan selalu kuingat kak, pesanmu tadi siang. "Semangat yo, takhlukkan Pak Andi!" Bukan berlebihan bagi kami, sungguh berurusan dengan bapak memang agak susah. Mahasiswanya tahu betul karakter bapak, apalagi anak PA nya macam kami ini. Aku gentar selama ini. Namun sungguh terenyuh. Kak susi bisa, kenapa aku tidak?

Tahun depan, inshaa Allah. Aku akan mengenakan kebaya dengan tatanan jilbab cantik. Maju ke podium dengan mengenakan selempang bertuliskan "DENGAN PUJIAN" Aamiin. Aku akan menakhlukkan dunia. 2016, namaku sudah ada tambahan S.Pd. di belakangnya. Tunai sudah satu kewajibanku terhadap negara, universitas dan orang tuaku. Mereka sponsor luar biasa di hidupku.

Tak muluk-muluk kan? Impian seorang aku ini. Satu lagi, terlintas dipikiranku saat berada di tengah ramainya penjual bunga. Adakah mereka yang akan memberiku bunga sembari mengucapkan selamat? We'll see..

Senin, 23 Februari 2015

[Bukan] Secret Admirer #2

Satu waktu aku menerima pesan singkat dari nomor baru yang berisi "Assalamualaikum Wr Wb" sekitar jam 5.30. Sepertinya sengaja nge-tes apakah aku sudah bangun dan sholat subuh. Yah karena tak kukenal, sudahlah abaikan. Toh aku juga tak punya waktu untuk SMS-an. Pagiku singkat sekali. Banyak hal yang mesti kulakukan. Meski kuliah jam 8. Agak siang dari anak sekolahan biasanya.

Lalu, sorenya. 17.10. Pesan yang sama kembali kuterima dari nomor baru itu. "Assalamualaikum Wr Wb" Karena aku penasaran, jadi kujawab saja salamnya. "Wa'alaikum salam Wr Wb" Langsung saja dia balas "sehat neng?" Alamaaak, seketika aku berkata dalam hati. Sudah kuduga, dia pasti orangnya. Tapi aku tak begitu mudahnya menganggap itu benar-benar dia. Pura-pura tidak tahu, rasanya perlu.

Berikutnya, 1 2 3 tanda bahwa benar dia orangnya mulai kukumpulkan. Aneh. Ia tetap saja tak mau mengaku siapa. Sudahlah, toh aku sudah yakin dia orangnya. Tapi akhir-akhir ini banyak nomor baru yang mengirimkan SMS macam-macam. Kebanyakan kuabaikan. Maaf, jika hanya pesan yang kuterima tak HARUS kubalas. Aku akan mengabaikannya. Beberapa juga karena pesan itu sudah kadaluwarsa alias sampainya terlambat. Itu juga jarang kubalas.

Seolah sudah lama aku tak melihatmu. Kemarin, betapa aku tak terkejut. Kau berada tepat di depan mataku. Meski kau datang nyatanya bukan untuk aku. Kita memang tak pernah bertegur sapa seperti layaknya teman biasa, tidak. Sesekali aku melihat ke arahmu. Ah, aku tak enak hati. Disana ada orang yang tahu kalau kita punya "sesuatu". Kulihat kau memang sedikit menundukkan matamu, menghindari pandangan denganku. Baguslah.

Lalu hari ini, kau "modusan" menanyakan "libur panjang gak mudik?" Wahaha Maafkan aku yang cuek dan culas ini, itu memang caraku. Tapi aku cukup senang bahwa ada yang selalu memberikan semangat untuk kuliah, mendoakan untuk kelulusanku. Kelancaran studiku, wisuda secepatnya. Dia memang tahu, itu tujuan utamaku. Anak akademik, katanya. Beda dengan dia yang seorang aktivis kelas kakap setauku.

[Bukan] Secret Admirer

Seolah tau satu sama lain. Seolah dekat sedekat urat nadi. Namun nyatanya tidak. Aku lebih nyaman melihatmu dari kejauhan. Melihat dari punggungmu. Berada satu meter di dekatmu, sungguh aku sangat gelisah. Tahu bahwa kau ada di belakangku juga membuatku "risih". Oh maaf, jika aku memalingkan muka saat mata kita saling temu. Bukan karena marah, sombong atau apalah. Aku malu menampakkan wajah yang kian memerah, tangan yang makin gemetar.

Aku tak menegur sapa. Oh maaf, hanya senyum yang bisa aku berikan kemudian berlalu ketika kau berada tepat di depan mata. Taukah dirimu? Sekali lagi aku malu. Jika harus menatap matamu lama-lama. Ah bukan, berlama-lama melihat dirimu dari dekat sungguh membuatku tak nyaman.

Mungkin kau akan mengira bahwa aku menghindar? Iya. Bukan bermaksud demikian, tapi aku tak biasa terlalu dekat dengan pria. Belum waktunya. Sungguh aku tak ingin menghancurkan prinsip hidup selama ini. Bersyukur bahwa prinsipku selaras dengan ajaran agamaku. Tak ada istilah pacaran, adanya menikah (pacaran setelah menikah). Oh maaf, mungkin dirimu lebih tau dari aku perihal itu.

Aku mungkin bisa menerka maksudmu mengumpamakan aku "mentari" yang akan selalu menyinari hidupmu. Terlalu dini, di umur perkenalan yg masih seumur jagung ini. Tentu saja, gadis mana yang tidak bahagia hatinya. Sungguh udara panas kala itu merubah tubuh menjadi dingin berkucuran keringat. Menjauh dan mengalihkan pembicaraan adalah hal yang tepat rasanya untuk memperkecil risiko terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Meski sejujurnya, saat menjelang tidur hal tersebut selalu teringat lagi dan lagi.

Melihatmu jarang. Bertegur sapa tak pernah. Namun kau sering menjadi tokoh utama di bunga tidurku. Lalu ketika kau menyapaku satu waktu, seakan melepas rindu dengan teman lama. Sangat dekat. Komunikasi yang tek intens ini membuatku selalu rindu. Menjadi teman baikmu di dunia maya, aku sudah senang. Tak perlu terlalu jauh.